Pengolahan Lumpur eks IPAL
Prinsip pengolahan lumpur adalah mengurangi kadar air dan volume lumpur
melalui pengentalan, pengeringan, pemadatan, atau untuk menghancurkan
racun melalui pembakaran, atau membunuh patogen melalui dekomposisi /
degradasi fisik. Beberapa unit pengolahanan lumpur yang banyak dikenal
adalah sbb. :
a. Sludge conditioning
Sludge
conditioning dapat dilakukan melalui penggumpalan dengan bahan kimia
koagulan seperti pada proses koaglasi-flokulasi. Bahan koagulan yang
digunakan juga sama yakni Tawas, feri klorida, PAC atau kadang
menggunakan kapur tohor atau abu dapur / incenerator.
Teknik yang
lain adalah dengan cara pemanasan dan pengepresan lumpur. Panas yang
digunakan sekitar 350 – 450 oF (177 – 232 oC) dan tekanan pengepresan
150 – 300 psi (10,5 – 21,0 kg/cm2).
b. Sludge thikening (pengentalan lumpur)
Proses
ini bisa dengan teknik pengapungan (floating) atau juga dengan teknik
pengendapan gravitasi ( gravity thickening). Pengapungan dilakukan
dengan menginjeksikan udara bertekanan 40 – 80 psi (2,8 - 5,5 kg/cm2)
kedalam lumpur. Udara akan “melarut” kedalam lumpur sehingga lumpur akan
terangkat dan terapung. Pengendapan gravitasi dilakukan seperti pada
proses sedimentasi. Disini lumpur akan bertambah pekat, pemekatan b isa
mencapai 3 – 10%.
c. Sludge stabilization (pemecahan bahan organik)
Sludge
stabilization pada dasarnya adalah penguraian bahan organik
biodegradeable dalam lumpur dengan memanfaatkan kerja mikroorganisme.
Pada proses ini hakikatnya sama dengan pengolahan limbah secara
biologi, yakni dengan cara aerobik atau cara anaerobik.
Untuk
stabilisasi lumpur dipandang lebih murah menggunakan cara anaerobik.
Lumpur dimasukkan dalam kontainer kedap udara (sludge digester) dan
dibiarkan beberapa waktu sehingga terjadi proses penguraian oleh
mekroorganisme. Pada proses ini akan dihasilkan gas methane (gas bio).
Lazimnya sludge digester dibuat dua buah (untuk dua tahap). Effluent
dari digester pertama masuk menjadi influent digester kedua.
Pengolahan
cara aerobik prinsipnya sama dengan instalasi lumpur aktif, yakni
meamasukkan udara kedalam lumpur, sehingga akan terjadi peningkatan
oksigen terlarut dalam air lumpur. Banyaknya oksigen tersebut merangsang
bakteri aerob untuk beraktivitas menguraikan / memecahkan bahan organik
yang ada pada lumpur dimaksud.
Lumpur hasil dari proses aerobik atau anaerobik berupa lumpur stabil yang dapat digunakan untuk pupuk.
d. Sludge Dewatering / Sludge drying bed
Proses
ini adalah untuk mengurangi kadar air dalam lumpur, dapat dilakukan
dengan mengalirkan air pada saringan pasir (sludge drying Bed). Tebal
pasir 10 – 25 Cm yang didasari kerikil setebal 10 – 45 Cm mampu
memadatkan lumpur hingga 95% dalam 6 minggu bila cuaca baik.
Pengurangan air dalam lumpur dapat juga dilakukan dengan teknik vacum filter, pressure filter, Compactor, Centrifuge.
e. Incenerator
Lumpur
yang dapat dibakar terlebih dahulu harus dilakukan proses pengentalan /
pemekatan (thicken) dan pengurangan air (dewatering). Abu hasil
pembakaran lumpur dapat digunakan untuk pengurugan lahan yang rendah
(land fill).
f. Land fill
Lumpur yang
dapat digunakan untuk pengisian lahan yang rendah (pengurugan = land
fill) terlebih dahulu harus dilakukan proses pengentalan / pemekatan
(thicken) dan pengurangan air (dewatering). Abu hasil pembakaran pada
proses incenerator juga dapat digunakan untuk pengurugan lahan yang
rendah (land fill).
g. Fertilizer
Lumpur
yang berasal dari IPAL ternyata dapat langsung digunakan untuk pupuk
pada tanaman keras. Ada sebuah laporan riset yang merekomendasikan
limbah / lumpur yang mengandung logam berat dapat digunakan sebagai
pupuk pada hutan bambu yang jauh dari permukiman dan bukan daerah
resapan air (catchment area).
Lumpur yang aman digunakan untuk pupuk
tanaman adalah lumpur yang telah mengalami proses sludge digestion /
stabilization, dewatering dan drying. Ternyata dalam lumpur IPAL pada
umumnya banyak mengandung N (6%), P (4%) dan K (0,4%) serta unsur
mikro lainnya yang bermanfaat bagi tanaman.