Banjar Sehat & Mandiri

Assalamualaikum Wr. Wb..
Weblog ini merupakan langkah awal Puskesmas Banjar 3 Kota Banjar untuk mengembangkan Teknologi Informasi,Kiranya informasi yang ada dalam weblog ini dapat membantu masyarakat dalam mengakses Seputar Infokes khususnya di WIlayah Kerja Puskesmas (Kelurahan Banjar & Kelurahan Mekarsari)...Untuk pengembangan weblog selanjutnya, kami mohon masukan positif.
Contact email : puskesmas.banjar3@gmail.com
Contact Admin : 081287933862 (Robby Senda)

**Puskesmas Banjar 3 Kota Banjar** Jln. Kapten jamhur No. 34 Kel. Mekarsari Telp. (0265) 7549037

wassalam.......


Glitter Words
pkm_bjr3. Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post

PROGRAM SUNTIK (SURVEY JENTIK) AEDES

Written By puskesmasbanjar3 on 21 Jul 2017 | Jumat, Juli 21, 2017

BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang

Program Indonesia Sehat merupakan salah satu program dari agenda ke-5 Nawa Cita, yaitu Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia. Program ini didukung oleh program sektoral lainnya yaitu Program Indonesia Pintar, Program Indonesia Kerja, dan Program Indonesia Sejahtera. Program Indonesia Sehat selanjutnya menjadi program utama Pembangunan Kesehatan yang kemudian direncanakan pencapaiannya melalui Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019, yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan R.I. Nomor HK.02.02/Menkes/52/2015. 4
Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat adalah  untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara social dan ekonomis. Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi tingginya bagi masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan yang terpadu dan menyeluruh dalam bentuk upaya kesehatan perseorangan dan upaya kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan diselenggarakan dalam bentuk kegiatan dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang dilaksanakan secara terpadu, menyeluruh, dan Berkesinambungan. 5
Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga terdiri atas 4 (empat) area prioritas diantaranya adalah penanggulangan penyakit menular. Area prioritas ini pula dilaksanakan dengan pendekatan upaya promotif dan preventif tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif oleh tenaga kesehatan sesuai kompetensi dan kewenangannya. 4
Program kesehatan yang termasuk ke dalam area prioritas tersebut di atas dilaksanakan secara bertahap di daerah terpilih (lokus dan fokus) termasuk daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan (DTPK) dari program Nusantara Sehat. Pentahapan pelaksanaan di luar daerah Nusantara Sehat, dan tidak menutup kemungkinan daerah lain yang juga akan melaksanakan atas inisiatif sendiri.
Gambaran kondisi umum pembangunan kesehatan di Indonesia dipaparkan berdasarkan hasil pencapaian program kesehatan, kondisi lingkungan strategis, kependudukan, pendidikan, kemiskinan, dan perkembangan baru lainnya. Prioritas penyakit menular masih tertuju pada penyakit HIV/AIDS, tuberkulosis, malaria, demam berdarah, influenza, dan flu burung.
Pemanasan global dapat mendorong berkembangnya berbagai vektor penyakit, misalnya adalah meningkatnya kejadian penyakit demam berdarah dengue (DBD). Kasus demam berdarah dengue (DBD) terindikasikan meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Akibat pemanasan global, siklus inkubasi ekstrinsik virus penyebab demam berdarah dengue (DBD) di tubuh nyamuk Aedes aegypti menjadi lebih pendek. Di mana masa inkubasi yang diperlukan nyamuk Aedes aegypti untuk bisa menularkan virus dengue setelah terinfeksi (masa inkubasi ekstrinsik) adalah 12 hari dengan suhu 300C menjadi 7 hari dengan suhu 32-350C. Hal ini berarti berpotensial tiga kali lipat meningkatkan transmisi/penularan penyakit demam berdarah dengue (DBD) dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Nyamuk Aedes. aegypti adalah nyamuk tropis dan sub tropis yang ditemukan di Bumi, biasanya antara garis lintang 35°LU dan 35°LS. Distribusi Aedes. aegypti juga dibatasi oleh ketinggian 1.000 m10. Nyamuk Aedes aegypti berasal dari  Ethiopia (Afrika). Indonesia sebagai salah-satu daerah beriklim tropis di wilayah Asia Tenggara tidak terlepas dari penyebaran nyamuk Aedes. aegypti. 1
Upaya pemberdayaan masyarakat dengan melaksanakan kegiatan PSN 3M Plus (menguras, menutup tempat penampungan air dan mendaur-ulang/ memanfaat kembali barang-barang bekas) serta ditambah (Plus) seperti : menaburkan larvasida pembasmi jentik, memelihara ikan pemakan jentik, mengganti air dalam pot/vas bunga dan lain-lain. Upaya ini melibatkan lintas program dan lintas sektor terkait melalui wadah Kelompok Kerja Operasional Demam Berdarah Dengue (Pokjanal DBD) dan kegiatan Juru Pemantau Jentik (Jumantik). Oleh karena itu untuk meningkatkan keberhasilan pengendalian DBD dan mencegah terjadinya peningkatan kasus atau KLB, maka diperlukan adanya Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dalam melakukan pengawasan dan penyuluhan kepada masyarakat agar melakukan PSN dengan 3M plus.6
Puskesmas Banjar III merupakan salah satu UPT Dinas Kesehatan  Kota Banjar dengan jumlah penduduk pada tahun 2016 sebanyak 33.553 jiwa , Jumlah rumah pada tahun 2016 sebanyak 7.954 rumah, dengan luas wilayah 626 Ha. Data kasus DBD di wilayah Puskesmas Banjar III pada tahun 2013 sebanyak 32 kasus, tahun 2014 sebanyak 60 kasus, tahun 2015 sebanyak 20 kasus , dan tahun 2016 sebanyak 111 kasus. Jumlah kasus tahun 2016 terjadi peningkatan kasus cukup besar hal ini dikarenakan peran serta masyarakat melalui program 3M Plus dan kegiatan Jumantik oleh kader sudah jarang sekali dilaksanakan.
Dengan latar belakang masalah diatas, maka Puskesmas Banjar III membuat kegiatan inovatif yang merupakan hasil kesepakatan bersama melalui kegiatan Lokakarya mini lintas sektor pada akhir tahun 2016, untuk memperhatikan kesehatan masyarakat dengan meningkatkan peran serta tenaga kesehatan Puskesmas secara langsung melalui pendekatan keluarga dengan tujuan untuk membantu menekan keberadaan jentik dan mengoptimalkan kembali kegiatan JUMANTIK (juru pantau jentik) oleh kader bersamaan kegiatan RW Siaga Aktif melalui program SURVEY JENTIK Aedes (SUNTIK Aedes) sehingga kasus DBD di wilayah Puskesmas Banjar III menurun.

1.2          Permasalahan

1.    Kegiatan pemantauan jentik oleh kader sudah menurun dan jarang dilaksanakan secara rutin

2.      Laporan kegiatan jumantik oleh kader perlu dilakukan verifikasi

3.      Kegiatan 3M Plus oleh masyarakat perlu diaktifkan kembali.

1.3         Tujuan

1.3.1        Tujuan Umum

Meningkatkan kemampuan dan kemandirian keluarga dalam penangulangan DBD diwilayah Puskesmas Banjar III secara efektif dan efisien melalui pendekatan keluarga bersama kader dan petugas kesehatan.

1.3.2        Tujuan Khusus

1.      Terbentuknya kepengurusan SUNTIK Aedes (Survey Jentik Aedes).
2.      Tersusunnya buku pedoman SUNTIK Aedes  untuk petugas dan kader
3.      Terjadwal dan terdokumentasikannya setiap kegiatan Survey Jentik Aedes.
4.      Terlaksananya kegiatan SUNTIK Aedes (Survey Jentik Aedes) di seluruh wilayah Puskesmas.
5.      Meningkatnya cakupan Angka Bebas Jentik melalui kegiatan SUNTIK Aedes (Survey Jentik Aedes) yang terintegrasi dengan kegiatan pembinaan RW Siaga Aktif sehingga terwujudnya kemitraan dalam upaya kesehatan masyarakat di lapangan.
6.      Menurunnya jumlah kasus penyakit DBD di wilayah kerja Puskesmas Banjar III pada tahun 2017.



BAB II
KERANGKA PIKIR



2.1         Konsep Pendekatan Keluarga
Pendekatan keluarga adalah salah satu cara Puskesmas untuk meningkatkan jangkauan sasaran dan mendekatkan/meningkatkan akses pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya dengan mendatangi keluarga. Puskesmas tidak hanya menyelenggarakan pelayanan kesehatan di dalam gedung, melainkan juga keluar gedung dengan mengunjungi keluarga di wilayah kerjanya. 4
Keluarga sebagai fokus dalam pelaksanaan program Indonesia Sehat dengan pendekatan keluarga. Keluarga memiliki lima fungsi, yaitu :
1.      Fungsi afektif (The Affective Function) adalah fungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengan orang lain. Fungsi ini dibutuhkan untuk perkembangan individu dan psikososial anggota keluarga.
2.      Fungsi sosialisasi yaitu proses perkembangan dan perubahan yang dilalui individu yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam lingkungan sosialnya. Sosialisasi dimulai sejak lahir. Fungsi ini berguna untuk membina sosialisasi pada anak, membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan anak dan meneruskan nilai-nilai budaya keluarga.
3.      Fungsi reproduksi (The Reproduction Function) adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan keluarga.
4.      Fungsi ekonomi (The Economic Function) yaitu keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat dalam mengembangkan kemampuan individu meningkatkan penghasilan agar memenuhi kebutuhan keluarga.
5.      Fungsi perawatan atau pemeliharaan kesehatan (The Health Care Function) adalah untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki produktivitas yang tinggi. Fungsi ini dikembangkan menjadi tugas keluarga di bidang kesehatan.Tugas-tugas keluarga dalam pemeliharaan kesehatan adalah :
a.       Mengenal gangguan perkembangan kesehatan setiap anggota keluarganya.
b.      Mengambil keputusan untuk tindakan kesehatan yang tepat.
c.       Memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang sakit.
d.      Mempertahankan suasana rumah yang menguntungkan untukkesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarganya.
e.       Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan fasilitas kesehatan.
Pendekatan keluarga yang dimaksud dalam pedoman umum ini merupakan pengembangan dari kunjungan rumah oleh Puskesmas dan perluasan dari upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas), yang meliputi kegiatan berikut :
1.      Kunjungan keluarga untuk pendataan/pengumpulan data profil kesehatan keluarga dan peremajaan (updating) pangkalan datanya.
2.      Kunjungan keluarga dalam rangka promosi kesehatan sebagai upaya promotif dan preventif.
3.      Kunjungan keluarga untuk menindaklanjuti pelayanan kesehatan dalam gedung.
4.      Pemanfaatan data dan informasi dari profil kesehatan keluarga untuk pengorganisasian/pemberdayaan masyarakat dan manajemen Puskesmas.
Tujuan dari pendekatan keluarga adalah sebagai berikut :
1.      Meningkatkan akses keluarga beserta anggotanya terhadap pelayanan kesehatan komprehensif, meliputi pelayanan promotif dan preventif serta pelayanan kuratif dan rehabilitatif dasar.
2.      Mendukung pencapaian Standar Pelayanan Minimum (SPM) kabupaten/kota dan provinsi, melalui peningkatan akses dan skrining kesehatan.
3.      Mendukung pelaksanaan JKN dengan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjadi peserta JKN.
4.      Mendukung tercapainya tujuan Program Indonesia Sehat dalam Renstra Kementerian Kesehatan Tahun 2015 – 2019.
2.2         RW Siaga
RW Siaga adalah suatu tatanan masyarakat yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan, bencana dan kegawat-daruratan kesehatan secara mandiri. 2
RW Siaga dibentuk dalam upaya  memiliki rasa kesadaran solidaritas sosial serta memiliki kepedulian terhadap kesehatan pribadi dan lingkungan.
RW SIAGA merupakan kegiatan bakti masyarakat yang dimaksudkan menata kesiapan warga dalam memberikan bantuan bencana alam dan kegawat-daruratan serta mengaktualisasikan warga  yang kompak dalam gotong royong dan tolong menolong.
Dasar pelaksanaan dari RW siaga adalah
a.       Konsep Desa/ Kelurahan Siaga Propinsi Jawa Barat;
b.      Keputusan Menkes no 564/Menkes/SK/VIII/2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengembangan Desa Siaga.
2.2.1   Maksud Dan Tujuan
a.      Maksud
Penyelenggaraan RW Siaga merupakan suatu upaya untuk menyediakan wadah bantuan solidaritas sosial kemanusiaan warga dalam membantu mengatasi setiap keadaan gawat darurat yang menimpa warga.
Menata kesiapan warga masyarakat RW  dalam karya bakti nyata melalui kegiatan Peduli Lingkungan, pencegahan dan pengendalian bencana, pertolongan kesehatan bagi masyarakat serta pengawasan gizi keluarga warga RW.
b.      Tujuan
1.      Meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan Lingkungan.
2.      Meningkatnya kegiatan masyarakat dalam mengantisipasi dan  melakukan tindakan penyelamatan terhadap ibu hamil, nifas, bayi, anak dan Masyarakat umumnya.
3.      Meningkatnya kegiatan masyarakat dalam pengamatan penyakit, dan faktor resiko, kesiapsiagaan bencana dan Kejadian Luar Biasa (KLB);
4.      Meningkatnya kadar gizi keluarga dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS);
5.      Meningkatnya sanitasi dasar
6.      Meningkatnya Usaha Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM)
2.3         Tenaga Kesehatan
Tenaga kesehatan masyarakat (Kesmas) merupakan bagian dari sumber daya manusia yang sangat penting perannya dalam pembangunan kesehatan dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN). Pembangunan kesehatan dengan paradigma sehat merupakan upaya meningkatkan kemandirian masyarakat dalam menjaga kesehatan melalui kesadaran yang lebih tinggi pada pentingnya pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif. 3
Pelayanan promotif, untuk meningkatkan kemandirian dan peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan diperlukan program penyuluhan dan pendidikan masyarakat yang berjenjang dan berkesinambungan sehingga dicapai tingkatan kemandirian masyarkat dalam pembangunan kesehatan. Dalam program promotif membutuhkan tenaga-tenaga kesmas yang handal terutama yang mempunyai spesialisasi dalam penyuluhan dan pendidikan. 3
BAB III
PROGRAM  INOVATIF

3.1.       Program Inovatif
Dengan dasar pemikiran tersebut di atas Puskesmas Banjar III mencoba untuk mengupayakan Peningkatan pengendalian Jentik dengan output Angka kesakitan / CFR (Case Fatality Rate) dan Angka Bebas Jentik (ABJ) melalui suvey jentik oleh petugas kesehatan dan pemberdayaan masyarakat (kader Jumantik) di semua RW yang berada di wilayah kerja Puskesmas Banjar III yaitu Kelurahan Banjar dan Kelurahan Mekarsari yang dilaksanakan serentak bersama kegiatan pembinaan RW Siaga Aktif dan Poyandu dengan Jadwal yang sudah ditetapkan pada tahun 2017. RW 08 Kelurahan Banjar Kecamatan Banjar sebagai RW binaan program unggulan Kesehatan Lingkungan khususnya Program SUNTIK Aedes.
3.1.1.   Program Survey Jentik Aedes (SUNTIK Aedes)
A.    Pengorganisasian
1)        Jumantik
Juru pemantau jentik atau Jumantik adalah kader/orang yang melakukan pemeriksaan, pemantauan dan pemberantasan jentik nyamuk khususnya Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
2)        Gerakan Survey Jentik (SUNTIK Aedes)
Adalah peran serta secara aktif antara kader jumantik dengan petugas kesehatan dalam pemeriksaan, pemantauan dan pemberantasan jentik nyamuk secara langsung ke lapangan yang telah mempunyai titik point wilayah kasus untuk pengendalian penyakit tular vektor khususnya penyakit DBD.
3)        Petugas Kesehatan/Surveyor
Adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan
Dalam hal ini Petugas Kesehatan di Puskesmas Banjar III adalah :
·         Petugas Kesehatan Lingkungan
·         Petugas Surveilans
4)        Koordinator Suntik Aedes
Adalah satu atau lebih jumantik/kader yang ditunjuk untuk melakukan pemantauan dan pembinaan pelaksanaan Program Survey Jentik Aedes (Suntik Aedes) oleh kader Jumantik (crosscheck).

B.     STRUKTUR
Pembentukan Kader Jumantik dalam kegiatan Survey Jentik Aedes (Suntik Aedes) yang berasal dari masyarakat terdiri dari Koordinator Jumantik dan Kader Jumantik. Pembentukan dan pengawasan kinerja menjadi tanggung jawab sepenuhnya oleh Petugas Surveyor Puskesmas Banjar III. Adapun susunan organisasinya adalah sebagai berikut :

 C.    TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB
1.      Survey Jentik Aedes
a.       Mensosialisasikan PSN 3M Plus kepada seluruh anggota keluarga/penghuni rumah.
b.      Memeriksa/memantau tempat perindukan nyamuk di dalam dan di luar rumah oleh Kader dan Petugas Kesehatan Sebulan sekali di RW Binaan dan sesuai jadwal kegiatan Posyandu, RW Siaga Aktif di seluruh RW di wilayah kerja Puskesmas.
c.       Menggerakkan anggota keluarga/penghuni rumah untuk melakukan PSN 3M Plus seminggu sekali.
d.      Hasil pemantauan jentik dicatat pada kartu jentik Suntik Aedes.
2.      Koordinator Suntik Aedes
a.       Melakukan sosialisasi PSN 3M Plus secara kelompok kepada masyarakat. Satu Koordinator Suntik Aedes bertanggungjawab membina Kader di Lingkungan Setempat.
b.      Menggerakkan masyarakat untuk melaksanakan PSN 3M Plus di lingkungan tempat tinggalnya.
c.       Membuat rencana/jadwal kunjungan ke seluruh bangunan baik rumah maupun TTU (tempat – tempat umum) di wilayah kerjanya.
d.      Melakukan pemantauan jentik bersama Kader di rumah dan bangunan yang tidak berpenghuni seminggu sekali.
e.       Membuat catatan/rekapitulasi hasil pemantauan jentik rumah, TTU sebulan sekali.
f.       Melaporkan hasil pemantauan jentik kepada Surveyor Suntik Aedes sebulan sekali.
3.      Kader Suntik Aedes
a.       Menggerakkan masyarakat untuk melaksanakan PSN 3M Plus di lingkungan tempat tinggalnya.
b.      Melakukan pemantauan jentik di rumah dan bangunan yang tidak berpenghuni seminggu sekali di wilayahnya.
c.       Membuat catatan/rekapitulasi hasil survey jentik rumah, TTU sebulan sekali.
d.      Mendampingi Surveyor/petugas kesehatan saat pelaksanaan kegiatan Suntik Aedes.
4.      Surveyor Suntik Aedes
a.       Memeriksa dan mengarahkan rencana kerja Koordinator Suntik Aedes.
b.      Memberikan bimbingan teknis kepada Koordinator dan kader  Suntik Aedes.
c.       Melakukan pembinaan dan peningkatan keterampilan kegiatan pemantauan jentik dan PSN 3M Plus kepada Koordinator Suntik Aedes dan Kader.
d.      Melakukan pengolahan data pemantauan jentik menjadi data Angka Bebas Jentik (ABJ).
e.       Melaporkan ABJ ke Dinas Kesehatan setiap 3 bulan.
5.      Puskesmas
a.       Berkoordinasi dengan kecamatan dan atau kelurahan/desa untuk pelaksanaan kegiatan PSN 3M Plus.
b.      Membina dan mengawasi kinerja Koordinator dan Surveyor Suntik Aedes.
c.       Menganalisis laporan ABJ dari Surveyor Suntik Aedes.
6.      Dinas Kesehatan
a.       Mengupayakan dukungan operasional Suntik Aedes di Puskesmas
b.      Memberikan bimbingan teknis perekrutan dan pelatihan Jumantik
c.       Menganalisa laporan hasil PJB dari puskesmas
d.      Mengirimkan umpan balik ke Puskesmas.

D.    PENCATATAN HASIL PEMANTAUAN ‘Survey Jentik’
LAPORAN PEMERIKSAAN JENTIK
PUSKESMAS        :
KELURAHAN       :
TANGGAL                        :
NO
NAMA KK
ALAMAT
JUMLAH
BAK AIR/BAK TAMPUNG
KET.
BAK AIR
DIPERIKSA
(+) JENTIK
(-) JENTIK










































ABJ





… %

                        KADER PENDAMPING                                                 SURVEYOR

                  ……………………………...                                       …………………………




Perkembangan ilmu kesehatan masyarakat telah menghantarkan kita pada paradigma baru, sehingga paradigma sehat menjadi orientasi baru pembangunan kesehatan.
Meningkatkan cakupan, keterjangkauaan dan mutu pelayanan kesehatan masyarakat tentang penyehatan lingkungan yang dilakukan di dalam gedung maupun yang dilakukan di luar gedung.
A.    Penerapan kegiatan SUNTIK Aedes :
  • 1)      Terbentuk kepengurusan SUNTIK Aedes RW Binaan.
  • 2)      Pemantauaan dilakukan seminggu sekali oleh kader
  • 3)      Pemantauaan dilakukan bersama petugas kesehatan (sanitarian) seiring kegiatan pembinaan RW Siaga terjadwal.
  • 4)      Merekap hasil kegiatan
  • 5)      Membuat laporan setiap bulan oleh kader binaan
  • B.     Hasil  Pemantauan Jentik oleh kader

            
Berdasarkan grafik diatas dapat disimpulkan bahwa kegiatan pengendalian jentik melalui kegiatan jumantik oleh kader yang rendah dapat mempengaruhi terhadap  kenaikan jumlah kasus DBD yang dapat dilihat pada Nilai ABJ yang rendah tahun 2014 yaitu 88,29 % dengan jumlah 60 kasus dibanding Nilai ABJ dan jumlah kasus DBD tahun 2013 dan tahun 2015.

C.    Hasil  Pemantauan SUNTIK Aedes

                                                  

Berdasarkan grafik diatas dapat dilihat bahwa kegiatan pengendalian jentik melalui survey jentik (Suntik Aedes) pada bulan April dan Mei tahun 2017 diperoleh nilai ABJ (Angka Bebas Jentik) yang cukup rendah. Hal ini dikarenakan hampir setiap kegiatan Suntik Aedes yang dilaksanakan selalu ditemukan positif (+) jentik pada rumah – rumah yang menjadi titik pantau pemeriksaan survey. 



BAB IV
KESIMPULAN  DAN  SARAN

4.1         Kesimpulan
1)   Untuk mendorong kinerja kader diperlukan koordinasi dan evaluasi secara langsung ke lapangan oleh Tenaga Kesehatan di Puskesmas.
2)   Pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan jumantik dapat menurunkan Angka Kesakitan DBD dalam periode tertentu.
3)   Perlu adanya pengembangan kegiatan jumantik oleh anak – anak sekolah sebagai juru pantau jentik di dalam lingkungan sekolah.
4)   Secara grafik dapat pula diperhitungkan dengan naik turunnya kurva kasus DBD setiap satu tahun sekali untuk dilakukan pencegahan pada tahun berikutnya melalui kegiatan – kegiatan pengendalian jentik.
5)   Kegiatan Survey Jentik Aedes  (Suntik Aedes) sangat efektif dan berpengaruh terhadap nilai ABJ yang diperoleh dari hasil pemeriksaan survey sehingga jumlah kasus pada tahun 2017 sampai dengan bulan Mei sangat cukup rendah (2 kss) dibandingkan dengan tahun 2016.

4.2         Saran dan Tindak Lanjut
1)   Perlu dilakukan peran serta masyarakat dan instansi terkait dalam pengendalian vektor berkelanjutan dan terpadu di seluruh Lingkungan wilayah kerja Puskesmas Banjar III, sehingga kejadian DBD dapat ditekan seminimal mungkin.
2)   Melaksanakan desiminasi informasi secara berkala tentang hasil pemantauan jentik.
3)   Monitoring dan Evaluasi hasil kerja Jumantik secara langsung ke lapangan.








DAFTAR PUSTAKA
 
1. Wiguna Candra.2015. Pemanasan Global dan Nyamuk Aedes Aegypti
2. Cibeuying Kampoeng. Petunjuk Teknis RW Siaga
3. Blog Didit.2010. Peran Tenaga Kesehatan Masyarakat Dalam Mengubah
Perilaku Masyarakat Menuju Hidup Bersih Dan Sehat. http://indonesiasehataz.blogspot.co.id/2010/12/peran-tenagakesehatan-masyarakat-dalam.html  [diakses tgl.15 April 2017]
4.                         , Peraturan Menteri Kesehatan Tentang Pedoman Penyelenggaraan
Program Indonesia Sehat Dengan Pendekatan Keluarga. PMK No. 39 tahun 2016
5.                         , Undang-Undang Republik IndonesiaTentang Kesehatan. UU RI No.
36 Tahun 2009

6. Jakarta. 2016. Petunjuk Tekniks Implementasi PSN 3M- Plus “Dengan Gerakan  1
Rumah 1 Jumantik”. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.





















































 
Support : Creating Website | Banjar3 Template | Mas Template
Copyright © 2014. Community Health Center - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Banjar3 Template
Proudly powered by Blogger