BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Program Indonesia Sehat merupakan
salah satu program dari agenda ke-5 Nawa Cita, yaitu Meningkatkan Kualitas
Hidup Manusia Indonesia. Program ini didukung oleh program sektoral lainnya
yaitu Program Indonesia Pintar, Program Indonesia Kerja, dan Program Indonesia
Sejahtera. Program Indonesia Sehat selanjutnya menjadi program utama
Pembangunan Kesehatan yang kemudian direncanakan pencapaiannya melalui Rencana
Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019, yang ditetapkan
melalui Keputusan Menteri Kesehatan R.I. Nomor HK.02.02/Menkes/52/2015. 4
Tujuan
pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan
hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang
produktif secara social dan ekonomis. Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi tingginya
bagi masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan yang terpadu dan menyeluruh
dalam bentuk upaya kesehatan perseorangan dan upaya kesehatan masyarakat.
Upaya kesehatan diselenggarakan
dalam bentuk kegiatan dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif yang dilaksanakan secara terpadu, menyeluruh, dan
Berkesinambungan. 5
Program Indonesia Sehat dengan
Pendekatan Keluarga terdiri atas 4 (empat) area prioritas diantaranya adalah
penanggulangan penyakit menular. Area prioritas ini pula dilaksanakan dengan
pendekatan upaya promotif dan preventif tanpa mengabaikan upaya kuratif dan
rehabilitatif oleh tenaga kesehatan sesuai kompetensi dan kewenangannya. 4
Program kesehatan yang termasuk ke
dalam area prioritas tersebut di atas dilaksanakan secara bertahap di daerah
terpilih (lokus dan fokus) termasuk daerah tertinggal, perbatasan, dan
kepulauan (DTPK) dari program Nusantara Sehat. Pentahapan pelaksanaan di luar
daerah Nusantara Sehat, dan tidak menutup kemungkinan daerah lain yang juga
akan melaksanakan atas inisiatif sendiri.
Gambaran kondisi umum pembangunan
kesehatan di Indonesia dipaparkan berdasarkan hasil pencapaian program kesehatan,
kondisi lingkungan strategis, kependudukan, pendidikan, kemiskinan, dan
perkembangan baru lainnya. Prioritas penyakit menular masih tertuju pada
penyakit HIV/AIDS, tuberkulosis, malaria, demam
berdarah, influenza, dan flu burung.
Pemanasan
global dapat mendorong berkembangnya berbagai vektor penyakit, misalnya adalah
meningkatnya kejadian penyakit demam berdarah dengue (DBD). Kasus
demam berdarah dengue (DBD) terindikasikan meningkat secara signifikan
dalam beberapa tahun terakhir. Akibat pemanasan global, siklus inkubasi
ekstrinsik virus penyebab demam berdarah dengue (DBD) di tubuh nyamuk Aedes
aegypti menjadi lebih pendek. Di mana masa inkubasi yang diperlukan nyamuk
Aedes aegypti untuk bisa menularkan virus dengue setelah
terinfeksi (masa inkubasi ekstrinsik) adalah 12 hari dengan suhu 300C
menjadi 7 hari dengan suhu 32-350C. Hal ini berarti berpotensial
tiga kali lipat meningkatkan transmisi/penularan penyakit demam berdarah dengue
(DBD) dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Nyamuk Aedes. aegypti adalah
nyamuk tropis dan sub tropis yang ditemukan di Bumi, biasanya antara garis
lintang 35°LU dan 35°LS. Distribusi Aedes. aegypti juga
dibatasi oleh ketinggian 1.000 m10. Nyamuk Aedes aegypti
berasal dari Ethiopia (Afrika). Indonesia sebagai salah-satu daerah
beriklim tropis di wilayah Asia Tenggara tidak terlepas dari penyebaran nyamuk Aedes.
aegypti. 1
Upaya pemberdayaan masyarakat
dengan melaksanakan kegiatan PSN 3M Plus (menguras, menutup tempat penampungan
air dan mendaur-ulang/ memanfaat kembali barang-barang bekas) serta ditambah
(Plus) seperti : menaburkan larvasida pembasmi jentik, memelihara ikan pemakan
jentik, mengganti air dalam pot/vas bunga dan lain-lain. Upaya ini melibatkan
lintas program dan lintas sektor terkait melalui wadah Kelompok Kerja
Operasional Demam Berdarah Dengue (Pokjanal DBD) dan kegiatan Juru Pemantau
Jentik (Jumantik). Oleh karena itu untuk meningkatkan keberhasilan pengendalian
DBD dan mencegah terjadinya peningkatan kasus atau KLB, maka diperlukan adanya
Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dalam melakukan pengawasan dan penyuluhan
kepada masyarakat agar melakukan PSN dengan 3M plus.6
Puskesmas
Banjar III merupakan salah satu UPT Dinas Kesehatan Kota Banjar dengan
jumlah penduduk pada tahun 2016 sebanyak 33.553 jiwa , Jumlah rumah pada tahun
2016 sebanyak 7.954 rumah, dengan luas wilayah 626 Ha. Data kasus DBD di
wilayah Puskesmas Banjar III pada tahun 2013 sebanyak 32 kasus, tahun 2014
sebanyak 60 kasus, tahun 2015 sebanyak 20 kasus , dan tahun 2016 sebanyak 111
kasus. Jumlah kasus tahun 2016 terjadi peningkatan kasus cukup besar hal ini dikarenakan
peran serta masyarakat melalui program 3M Plus dan kegiatan Jumantik oleh kader
sudah jarang sekali dilaksanakan.
Dengan
latar belakang masalah diatas, maka Puskesmas Banjar III membuat kegiatan
inovatif yang merupakan hasil kesepakatan bersama melalui kegiatan Lokakarya
mini lintas sektor pada akhir tahun 2016, untuk memperhatikan kesehatan
masyarakat dengan meningkatkan peran serta tenaga kesehatan Puskesmas secara
langsung melalui pendekatan keluarga dengan tujuan untuk membantu menekan keberadaan
jentik dan mengoptimalkan kembali kegiatan JUMANTIK (juru pantau jentik) oleh
kader bersamaan kegiatan RW Siaga Aktif melalui program SURVEY JENTIK Aedes (SUNTIK Aedes) sehingga kasus DBD di wilayah Puskesmas Banjar III menurun.
1.2
Permasalahan
1. Kegiatan pemantauan jentik oleh kader sudah
menurun dan jarang dilaksanakan secara rutin
2.
Laporan kegiatan jumantik oleh kader perlu
dilakukan verifikasi
3. Kegiatan
3M Plus oleh masyarakat perlu diaktifkan kembali.
1.3
Tujuan
1.3.1
Tujuan Umum
Meningkatkan kemampuan dan kemandirian keluarga dalam penangulangan
DBD diwilayah Puskesmas Banjar III secara efektif dan efisien melalui pendekatan
keluarga bersama kader dan petugas kesehatan.
1.3.2
Tujuan Khusus
1. Terbentuknya
kepengurusan SUNTIK Aedes (Survey
Jentik Aedes).
2. Tersusunnya
buku pedoman SUNTIK Aedes untuk petugas dan kader
3. Terjadwal
dan terdokumentasikannya setiap kegiatan Survey Jentik Aedes.
4. Terlaksananya
kegiatan SUNTIK Aedes (Survey Jentik Aedes) di seluruh wilayah Puskesmas.
5. Meningkatnya
cakupan Angka Bebas Jentik melalui kegiatan SUNTIK Aedes (Survey Jentik Aedes)
yang terintegrasi dengan kegiatan pembinaan RW Siaga Aktif sehingga terwujudnya
kemitraan dalam upaya kesehatan masyarakat di lapangan.
6. Menurunnya
jumlah kasus penyakit DBD di wilayah kerja Puskesmas Banjar III pada tahun
2017.
BAB
II
KERANGKA
PIKIR
|
|
2.1
Konsep Pendekatan Keluarga
Pendekatan keluarga adalah salah satu cara Puskesmas untuk
meningkatkan jangkauan sasaran dan mendekatkan/meningkatkan akses pelayanan
kesehatan di wilayah kerjanya dengan mendatangi keluarga. Puskesmas tidak hanya
menyelenggarakan pelayanan kesehatan di dalam gedung, melainkan juga keluar gedung
dengan mengunjungi keluarga di wilayah kerjanya. 4
Keluarga sebagai fokus dalam pelaksanaan program Indonesia
Sehat dengan pendekatan keluarga. Keluarga memiliki lima fungsi, yaitu :
1. Fungsi afektif (The Affective Function)
adalah fungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan segala sesuatu untuk
mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengan orang lain. Fungsi ini dibutuhkan
untuk perkembangan individu dan psikososial anggota keluarga.
2. Fungsi sosialisasi yaitu proses
perkembangan dan perubahan yang dilalui individu yang menghasilkan interaksi
sosial dan belajar berperan dalam lingkungan sosialnya. Sosialisasi dimulai
sejak lahir. Fungsi ini berguna untuk membina sosialisasi pada anak, membentuk
norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan anak dan meneruskan
nilai-nilai budaya keluarga.
3. Fungsi reproduksi (The Reproduction
Function) adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan
keluarga.
4. Fungsi ekonomi (The Economic
Function) yaitu keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara
ekonomi dan tempat dalam mengembangkan kemampuan individu meningkatkan
penghasilan agar memenuhi kebutuhan keluarga.
5. Fungsi perawatan atau pemeliharaan
kesehatan (The Health Care Function) adalah untuk mempertahankan keadaan
kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki produktivitas yang tinggi.
Fungsi ini dikembangkan menjadi tugas keluarga di bidang kesehatan.Tugas-tugas
keluarga dalam pemeliharaan kesehatan adalah :
a.
Mengenal
gangguan perkembangan kesehatan setiap anggota keluarganya.
b.
Mengambil
keputusan untuk tindakan kesehatan yang tepat.
c.
Memberikan
perawatan kepada anggota keluarga yang sakit.
d.
Mempertahankan
suasana rumah yang menguntungkan untukkesehatan dan perkembangan kepribadian
anggota keluarganya.
e.
Mempertahankan
hubungan timbal balik antara keluarga dan fasilitas kesehatan.
Pendekatan keluarga yang dimaksud dalam pedoman umum ini
merupakan pengembangan dari kunjungan rumah oleh Puskesmas dan perluasan dari
upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas), yang meliputi kegiatan
berikut :
1. Kunjungan keluarga untuk
pendataan/pengumpulan data profil kesehatan keluarga dan peremajaan (updating)
pangkalan datanya.
2. Kunjungan keluarga dalam rangka
promosi kesehatan sebagai upaya promotif dan preventif.
3. Kunjungan keluarga untuk
menindaklanjuti pelayanan kesehatan dalam gedung.
4. Pemanfaatan data dan informasi dari
profil kesehatan keluarga untuk pengorganisasian/pemberdayaan masyarakat dan
manajemen Puskesmas.
Tujuan dari pendekatan keluarga adalah sebagai berikut :
1.
Meningkatkan
akses keluarga beserta anggotanya terhadap pelayanan kesehatan komprehensif,
meliputi pelayanan promotif dan preventif serta pelayanan kuratif dan
rehabilitatif dasar.
2.
Mendukung
pencapaian Standar Pelayanan Minimum (SPM) kabupaten/kota dan provinsi, melalui
peningkatan akses dan skrining kesehatan.
3.
Mendukung
pelaksanaan JKN dengan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjadi peserta
JKN.
4.
Mendukung
tercapainya tujuan Program Indonesia Sehat dalam Renstra Kementerian Kesehatan
Tahun 2015 – 2019.
2.2
RW Siaga
RW Siaga adalah suatu tatanan masyarakat
yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan
untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan, bencana dan kegawat-daruratan
kesehatan secara mandiri. 2
RW Siaga dibentuk dalam upaya
memiliki rasa kesadaran solidaritas sosial serta memiliki kepedulian terhadap
kesehatan pribadi dan lingkungan.
RW SIAGA merupakan kegiatan bakti
masyarakat yang dimaksudkan menata kesiapan warga dalam memberikan bantuan
bencana alam dan kegawat-daruratan serta mengaktualisasikan warga yang
kompak dalam gotong royong dan tolong menolong.
Dasar pelaksanaan dari RW siaga adalah
a.
Konsep Desa/ Kelurahan Siaga Propinsi Jawa Barat;
b.
Keputusan Menkes no 564/Menkes/SK/VIII/2006 tentang Pedoman
Pelaksanaan Pengembangan Desa Siaga.
2.2.1 Maksud
Dan Tujuan
a. Maksud
Penyelenggaraan RW Siaga merupakan suatu upaya untuk
menyediakan wadah bantuan solidaritas sosial kemanusiaan warga dalam membantu
mengatasi setiap keadaan gawat darurat yang menimpa warga.
Menata kesiapan warga masyarakat RW dalam karya bakti
nyata melalui kegiatan Peduli Lingkungan, pencegahan dan pengendalian bencana,
pertolongan kesehatan bagi masyarakat serta pengawasan gizi keluarga warga RW.
b. Tujuan
1.
Meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat
tentang kesehatan dan Lingkungan.
2.
Meningkatnya kegiatan masyarakat dalam mengantisipasi
dan melakukan tindakan penyelamatan terhadap ibu hamil, nifas, bayi, anak
dan Masyarakat umumnya.
3.
Meningkatnya kegiatan masyarakat dalam pengamatan
penyakit, dan faktor resiko, kesiapsiagaan bencana dan Kejadian Luar Biasa
(KLB);
4.
Meningkatnya kadar gizi keluarga dan Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat (PHBS);
5.
Meningkatnya sanitasi dasar
6.
Meningkatnya Usaha Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM)
2.3
Tenaga Kesehatan
Tenaga kesehatan
masyarakat (Kesmas) merupakan bagian dari sumber daya manusia yang sangat
penting perannya dalam pembangunan kesehatan dalam Sistem Kesehatan Nasional
(SKN). Pembangunan kesehatan dengan paradigma sehat merupakan upaya
meningkatkan kemandirian masyarakat dalam menjaga kesehatan melalui kesadaran
yang lebih tinggi pada pentingnya pelayanan kesehatan yang bersifat promotif
dan preventif. 3
Pelayanan promotif, untuk
meningkatkan kemandirian dan peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan
diperlukan program penyuluhan dan pendidikan masyarakat yang berjenjang dan
berkesinambungan sehingga dicapai tingkatan kemandirian masyarkat dalam pembangunan
kesehatan. Dalam program promotif membutuhkan tenaga-tenaga kesmas yang handal
terutama yang mempunyai spesialisasi dalam penyuluhan dan pendidikan. 3
BAB III
PROGRAM
INOVATIF
3.1.
Program Inovatif
Dengan dasar pemikiran tersebut di
atas Puskesmas Banjar III mencoba untuk mengupayakan Peningkatan pengendalian
Jentik dengan output Angka kesakitan / CFR (Case Fatality Rate) dan Angka Bebas Jentik (ABJ)
melalui suvey jentik oleh petugas kesehatan dan pemberdayaan masyarakat (kader
Jumantik) di semua RW yang berada di wilayah kerja Puskesmas Banjar III yaitu
Kelurahan Banjar dan Kelurahan Mekarsari yang dilaksanakan serentak bersama
kegiatan pembinaan RW Siaga Aktif dan Poyandu dengan Jadwal yang sudah ditetapkan
pada tahun 2017. RW 08 Kelurahan Banjar Kecamatan Banjar sebagai RW binaan
program unggulan Kesehatan Lingkungan khususnya Program SUNTIK Aedes.
3.1.1. Program Survey Jentik Aedes (SUNTIK Aedes)
A.
Pengorganisasian
1)
Jumantik
Juru pemantau jentik atau Jumantik adalah kader/orang yang
melakukan pemeriksaan, pemantauan dan pemberantasan jentik nyamuk khususnya Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
2)
Gerakan Survey Jentik (SUNTIK Aedes)
Adalah peran serta secara aktif
antara kader jumantik dengan petugas kesehatan dalam pemeriksaan, pemantauan
dan pemberantasan jentik nyamuk secara langsung ke lapangan yang telah
mempunyai titik point wilayah kasus untuk pengendalian penyakit tular vektor
khususnya penyakit DBD.
3)
Petugas Kesehatan/Surveyor
Adalah
setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki
pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan
yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan
.
Dalam hal ini Petugas Kesehatan di Puskesmas Banjar III adalah :
·
Petugas
Kesehatan Lingkungan
·
Petugas
Surveilans
4)
Koordinator Suntik Aedes
Adalah satu atau lebih jumantik/kader yang ditunjuk untuk
melakukan pemantauan dan pembinaan pelaksanaan Program Survey Jentik Aedes (Suntik Aedes) oleh kader Jumantik (crosscheck).
B. STRUKTUR
Pembentukan Kader Jumantik dalam kegiatan Survey Jentik Aedes (Suntik Aedes) yang berasal dari masyarakat terdiri dari Koordinator
Jumantik dan Kader Jumantik. Pembentukan dan pengawasan kinerja menjadi
tanggung jawab sepenuhnya oleh Petugas Surveyor Puskesmas Banjar III. Adapun
susunan organisasinya adalah sebagai berikut :
C.
TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB
1.
Survey Jentik Aedes
a. Mensosialisasikan PSN 3M Plus
kepada seluruh anggota keluarga/penghuni rumah.
b. Memeriksa/memantau tempat
perindukan nyamuk di dalam dan di luar rumah oleh Kader dan Petugas Kesehatan
Sebulan sekali di RW Binaan dan sesuai jadwal kegiatan Posyandu, RW Siaga Aktif
di seluruh RW di wilayah kerja Puskesmas.
c. Menggerakkan anggota
keluarga/penghuni rumah untuk melakukan PSN 3M Plus seminggu sekali.
d. Hasil pemantauan jentik dicatat
pada kartu jentik Suntik Aedes.
2.
Koordinator Suntik Aedes
a. Melakukan sosialisasi PSN 3M Plus
secara kelompok kepada masyarakat. Satu Koordinator Suntik Aedes
bertanggungjawab membina Kader di Lingkungan Setempat.
b. Menggerakkan masyarakat untuk
melaksanakan PSN 3M Plus di lingkungan tempat tinggalnya.
c. Membuat rencana/jadwal kunjungan
ke seluruh bangunan baik rumah maupun TTU (tempat – tempat umum) di wilayah
kerjanya.
d. Melakukan pemantauan jentik
bersama Kader di rumah dan bangunan yang tidak berpenghuni seminggu sekali.
e. Membuat catatan/rekapitulasi hasil
pemantauan jentik rumah, TTU sebulan sekali.
f. Melaporkan hasil pemantauan jentik
kepada Surveyor Suntik Aedes sebulan
sekali.
3.
Kader Suntik Aedes
a. Menggerakkan masyarakat untuk
melaksanakan PSN 3M Plus di lingkungan tempat tinggalnya.
b. Melakukan pemantauan jentik di
rumah dan bangunan yang tidak berpenghuni seminggu sekali di wilayahnya.
c. Membuat catatan/rekapitulasi hasil
survey jentik rumah, TTU sebulan sekali.
d. Mendampingi Surveyor/petugas
kesehatan saat pelaksanaan kegiatan Suntik Aedes.
4.
Surveyor Suntik Aedes
a. Memeriksa dan mengarahkan rencana
kerja Koordinator Suntik Aedes.
b. Memberikan bimbingan teknis kepada
Koordinator dan kader Suntik Aedes.
c. Melakukan pembinaan dan
peningkatan keterampilan kegiatan pemantauan jentik dan PSN 3M Plus kepada
Koordinator Suntik Aedes dan Kader.
d. Melakukan pengolahan data
pemantauan jentik menjadi data Angka Bebas Jentik (ABJ).
e. Melaporkan ABJ ke Dinas Kesehatan
setiap 3 bulan.
5.
Puskesmas
a. Berkoordinasi dengan kecamatan dan
atau kelurahan/desa untuk pelaksanaan kegiatan PSN 3M Plus.
b. Membina dan mengawasi kinerja
Koordinator dan Surveyor Suntik Aedes.
c. Menganalisis laporan ABJ dari Surveyor
Suntik Aedes.
6.
Dinas Kesehatan
a. Mengupayakan dukungan operasional Suntik
Aedes di Puskesmas
b. Memberikan bimbingan teknis
perekrutan dan pelatihan Jumantik
c. Menganalisa laporan hasil PJB dari
puskesmas
d. Mengirimkan umpan balik ke
Puskesmas.
D.
PENCATATAN HASIL PEMANTAUAN ‘Survey
Jentik’
LAPORAN
PEMERIKSAAN JENTIK
PUSKESMAS :
KELURAHAN :
TANGGAL :
|
NO
|
NAMA
KK
|
ALAMAT
|
JUMLAH
|
BAK
AIR/BAK TAMPUNG
|
KET.
|
||
|
BAK
AIR
|
DIPERIKSA
|
(+)
JENTIK
|
(-)
JENTIK
|
|
|||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
ABJ
|
|
|
|
|
|
… %
|
|
KADER PENDAMPING SURVEYOR
……………………………... …………………………
|
|
|
Perkembangan ilmu kesehatan
masyarakat telah menghantarkan kita pada paradigma baru, sehingga paradigma
sehat menjadi orientasi baru pembangunan kesehatan.
Meningkatkan cakupan,
keterjangkauaan dan mutu pelayanan kesehatan masyarakat tentang penyehatan
lingkungan yang dilakukan di dalam gedung maupun yang dilakukan di luar gedung.
A. Penerapan kegiatan SUNTIK Aedes :
- 1) Terbentuk kepengurusan SUNTIK Aedes RW Binaan.
- 2) Pemantauaan dilakukan seminggu sekali oleh kader
- 3) Pemantauaan dilakukan bersama petugas kesehatan (sanitarian) seiring kegiatan pembinaan RW Siaga terjadwal.
- 4) Merekap hasil kegiatan
- 5) Membuat laporan setiap bulan oleh kader binaan
- B. Hasil Pemantauan Jentik oleh kader
Berdasarkan
grafik diatas dapat disimpulkan bahwa kegiatan pengendalian jentik melalui kegiatan
jumantik oleh kader yang rendah dapat mempengaruhi terhadap kenaikan jumlah kasus DBD yang dapat dilihat
pada Nilai ABJ yang rendah tahun 2014 yaitu 88,29 % dengan jumlah 60 kasus
dibanding Nilai ABJ dan jumlah kasus DBD tahun 2013 dan tahun 2015.
C.
Hasil Pemantauan SUNTIK Aedes
Berdasarkan
grafik diatas dapat dilihat bahwa kegiatan pengendalian jentik melalui survey
jentik (Suntik Aedes) pada bulan
April dan Mei tahun 2017 diperoleh nilai ABJ (Angka Bebas Jentik) yang cukup
rendah. Hal ini dikarenakan hampir setiap kegiatan Suntik Aedes yang dilaksanakan selalu ditemukan positif (+) jentik pada
rumah – rumah yang menjadi titik pantau pemeriksaan survey.
BAB
IV
KESIMPULAN
DAN SARAN
4.1
Kesimpulan
1) Untuk mendorong kinerja kader diperlukan
koordinasi dan evaluasi secara langsung ke lapangan oleh Tenaga Kesehatan di
Puskesmas.
2) Pemberdayaan masyarakat melalui
kegiatan jumantik dapat menurunkan Angka Kesakitan DBD dalam periode tertentu.
3) Perlu adanya pengembangan kegiatan
jumantik oleh anak – anak sekolah sebagai juru pantau jentik di dalam
lingkungan sekolah.
4) Secara grafik dapat pula
diperhitungkan dengan naik turunnya kurva kasus DBD setiap satu tahun sekali
untuk dilakukan pencegahan pada tahun berikutnya melalui kegiatan – kegiatan
pengendalian jentik.
5) Kegiatan Survey Jentik Aedes (Suntik Aedes)
sangat efektif dan berpengaruh terhadap nilai ABJ yang diperoleh dari hasil pemeriksaan
survey sehingga jumlah kasus pada tahun 2017 sampai dengan bulan Mei sangat
cukup rendah (2 kss) dibandingkan dengan tahun 2016.
4.2
Saran
dan Tindak Lanjut
1) Perlu dilakukan peran serta
masyarakat dan instansi terkait dalam pengendalian vektor berkelanjutan dan
terpadu di seluruh Lingkungan wilayah kerja Puskesmas Banjar III, sehingga
kejadian DBD dapat ditekan seminimal mungkin.
2) Melaksanakan desiminasi informasi
secara berkala tentang hasil pemantauan jentik.
3) Monitoring dan Evaluasi hasil
kerja Jumantik secara langsung ke lapangan.
DAFTAR
PUSTAKA
1. Wiguna
Pemanasan Global dan Nyamuk Aedes Aegypti
http://duniaiptek.com/pemanasan-global-dan-nyamuk-aedes-aegypti/.
[diakses tgl.15 April 2017]
2. Cibeuying Kampoeng. Petunjuk Teknis RW Siaga
https://cibland.wordpress.com/pedoman/rw-siaga/.[diakses tgl.15April 2017]
3. Blog Didit.2010. Peran
Tenaga Kesehatan Masyarakat Dalam Mengubah
Perilaku Masyarakat Menuju Hidup Bersih Dan
Sehat. http://indonesiasehataz.blogspot.co.id/2010/12/peran-tenagakesehatan-masyarakat-dalam.html [diakses tgl.15 April
2017]
4. , Peraturan
Menteri Kesehatan Tentang Pedoman Penyelenggaraan
Program Indonesia Sehat Dengan
Pendekatan Keluarga.
PMK No. 39 tahun 2016
5. , Undang-Undang
Republik IndonesiaTentang Kesehatan. UU RI No.
36 Tahun 2009
6. Jakarta.
2016. Petunjuk Tekniks Implementasi PSN 3M-
Plus “Dengan Gerakan 1
Rumah
1 Jumantik”. Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia.
[baa]
:|
8-}
~x(
i-)
:-L
x(
=))
[ka]
:vis:
[ok]
:adrink:
[good]
:molor:
[punish]
:))
:)]
;))
;;)
:omg:
;)
:o
:help:
:)
:LoL:
:doubleup:
:thumbsup:
:dor:
:-/