Banjar Sehat & Mandiri
Assalamualaikum Wr. Wb..
Weblog ini merupakan langkah awal Puskesmas Banjar 3 Kota Banjar untuk mengembangkan Teknologi Informasi,Kiranya informasi yang ada dalam weblog ini dapat membantu masyarakat dalam mengakses Seputar Infokes khususnya di WIlayah Kerja Puskesmas (Kelurahan Banjar & Kelurahan Mekarsari)...Untuk pengembangan weblog selanjutnya, kami mohon masukan positif.
Contact email : puskesmas.banjar3@gmail.com
Weblog ini merupakan langkah awal Puskesmas Banjar 3 Kota Banjar untuk mengembangkan Teknologi Informasi,Kiranya informasi yang ada dalam weblog ini dapat membantu masyarakat dalam mengakses Seputar Infokes khususnya di WIlayah Kerja Puskesmas (Kelurahan Banjar & Kelurahan Mekarsari)...Untuk pengembangan weblog selanjutnya, kami mohon masukan positif.
Contact email : puskesmas.banjar3@gmail.com
pkm_bjr3. Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post
Jumat, Januari 09, 2015
Kegiatan UKS
Written By puskesmasbanjar3 on 9 Jan 2015 | Jumat, Januari 09, 2015
Label:
Kegiatan UKS
Kamis, Januari 08, 2015
A. Peraturan - Perundangan
1. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 128 Tahun 2004 Tentang Kebijakan Dasar Puskesmas
2. Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 128 tahun 2004
3. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 267 Tentang Pengorganisasian Dinas Kesehatan Daerah
4. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 275 Tentang Surveilans Malaria
5. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 369 Tentang Standar Profesi Bidan
6. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 373 Tentang Standar Profesi Sanitarian
7. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 374 Tentang Standar Profesi Gizi
8. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 378 Tentang Standar Profesi Perawat Gigi
9. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 483 Tentang Pedoman Surveilans AFP
10. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 585 Tentang Pedoman Promosi Kesehatan Di Puskesmas
11. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 671 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Kegiatan Program Upaya Kesehatan Perorangan
12. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1457 Tahun 2003 Tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatgan Di Kabupaten / Kota
13. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 971 tahun 2009 Tentang Standar Kompetensi Pejabat Struktural Kesehatan
14. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 512 tahun 2007 Tentang Izin Praktik Dan Pelaksanaan Praktek Kedokteran
15. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor HK02.02-148 Tahun 2010 Tentang Izin Dan Penyelenggaraan Praktik Perawat
16. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor HK02.02-149 Tahun 2010 Tentang Izin Dan Penyelenggaraan Praktik Bidan
17. Peraturan Pemerintah Nomor 100 tahun 2000 Tentang Pengangkatan PNS Dalam Jabatan Struktural
18. Peraturan Pemerintah Nomor 13 tahun 2002 Tentang Perubahan Atas PP No 100 th 2000 Tentang Pengangkatan PNS Dalam Jabatan Struktural
19. Peraturan Pemerintah Nomor 40 tahun 2010 Tentang Jabatan Fungsional PNS
20. Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 2007 Tentang Organisasi Perangkat Daerah
21. Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 2005 Tentang Jabatan Rangkap PNS
22. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 Tentang Pokok-Pokok Kepegawaian
23. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika
24. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit
25. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran
26. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
27. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
Peraturan Bidang Kesehatan
Written By puskesmasbanjar3 on 8 Jan 2015 | Kamis, Januari 08, 2015
1. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 128 Tahun 2004 Tentang Kebijakan Dasar Puskesmas
2. Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 128 tahun 2004
3. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 267 Tentang Pengorganisasian Dinas Kesehatan Daerah
4. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 275 Tentang Surveilans Malaria
5. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 369 Tentang Standar Profesi Bidan
6. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 373 Tentang Standar Profesi Sanitarian
7. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 374 Tentang Standar Profesi Gizi
8. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 378 Tentang Standar Profesi Perawat Gigi
9. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 483 Tentang Pedoman Surveilans AFP
10. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 585 Tentang Pedoman Promosi Kesehatan Di Puskesmas
11. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 671 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Kegiatan Program Upaya Kesehatan Perorangan
12. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1457 Tahun 2003 Tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatgan Di Kabupaten / Kota
13. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 971 tahun 2009 Tentang Standar Kompetensi Pejabat Struktural Kesehatan
14. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 512 tahun 2007 Tentang Izin Praktik Dan Pelaksanaan Praktek Kedokteran
15. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor HK02.02-148 Tahun 2010 Tentang Izin Dan Penyelenggaraan Praktik Perawat
16. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor HK02.02-149 Tahun 2010 Tentang Izin Dan Penyelenggaraan Praktik Bidan
17. Peraturan Pemerintah Nomor 100 tahun 2000 Tentang Pengangkatan PNS Dalam Jabatan Struktural
18. Peraturan Pemerintah Nomor 13 tahun 2002 Tentang Perubahan Atas PP No 100 th 2000 Tentang Pengangkatan PNS Dalam Jabatan Struktural
19. Peraturan Pemerintah Nomor 40 tahun 2010 Tentang Jabatan Fungsional PNS
20. Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 2007 Tentang Organisasi Perangkat Daerah
21. Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 2005 Tentang Jabatan Rangkap PNS
22. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 Tentang Pokok-Pokok Kepegawaian
23. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika
24. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit
25. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran
26. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
27. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
Label:
PeraturanBidang Kesehatan
Selasa, Januari 06, 2015
Usaha Pest Control Bagi Sanitarian
Written By puskesmasbanjar3 on 6 Jan 2015 | Selasa, Januari 06, 2015
Usaha Pest Control Bagi Sanitarian
PROSEDUR UMUM USAHA PEMBASMIAN SERANGGA
1.Perkenalkan diri anda atau perusahaan anda pada konsumen, melalui surat, booklet, leaflet, presentasi dalam seminar atau kunjungan langsung. Komsumen yang anda tuju dapat berupa hotel, rumah sakit, rumah makan, perusahaan transportasi, dan perusahaan atau lembaga lainnya yang diduga membutuhkan pelayanan pembasmian serangga (pest control).
1.Perkenalkan diri anda atau perusahaan anda pada konsumen, melalui surat, booklet, leaflet, presentasi dalam seminar atau kunjungan langsung. Komsumen yang anda tuju dapat berupa hotel, rumah sakit, rumah makan, perusahaan transportasi, dan perusahaan atau lembaga lainnya yang diduga membutuhkan pelayanan pembasmian serangga (pest control).
2.Apabila sudah ada respon dari konsumen, mintalah ijin
untuk survey lokasi. Survey ini bermanfaat untuk merencanakan serangga
sasaran, lokasi treatment, bentuk / jenis treatment, tenaga, waktu dan
biaya yang ditawarkan. Juga untuk mengetahui faktor penunjang dan
penghambat.
3.Survey dilakukan, terutama untuk memperoleh data antara
lain : - Jenis pest - Resting places & breeding places pest. - Luas
efektif bidang /sasaran aplikasi - Jumlah dan jenis barang yang di
treatment. - Waktu idle (untuk treatment) - Fasilitas pendukung
(listrik, air dll) - Faktor yang dapat menghambat (AC, smoke detektor,
dll)
4.Hasil survey untuk menyusun proposal / perencanaan yang meliputi :
- Jenis pest yang ada - Luas / volume dan tempat pest berada. - Metode
aplikasi / treatment serta peralatan yang diperlukan. - Jenis dan jumlah
bahan kimia yang akan digunakan. - Jumlah dan kualifikasi tenaga yang
diperlukan. - Schedule / waktu pelaksanaan aplikasi dan supervisi -
Bentuk antisipasi kegagalan dan kecelakaan. - Transportasi yang
digunakan - Hitung semua biaya minimal yang dibutuhkan (termasuk laba
bersih dan pajak). Perkirakan juga harga yang kelak akan ditawarkan.
5.Buatlah surat penawaran / proposal pengendalian pest kepada konsumen
dimaksud. Lakukan tawar-menawar harga. Sodorkan form perjanjian /
persetujuan / kontrak kerja (termasuk sistem pembayaran &
garansinya).
6.Laksanakan pekerjaan sesuai dengan dokumen kontrak.
Perhatikan mutu pelayanan.
7.Lakukan pula evaluasi pelaksanaan kegiatan
dan upaya penelitian & pengembangan. Beberapa contoh teknik
pengendalian lalat antara lain: AIR DALAM KANTONG Kurang lebih 300 ml
air jernih dimasukkan dalam kantong plastik yang transparan. Kemudian
ikat dan gantungkan ditempat yang banyak terdapat lalat berkerumun. Bisa
juga diletakkan didekat tempat makanan, dimana banyak terdapat lalat.
Cara seperti ini juga dapat digunakan untuk mengusir lalat. Belum
diketahui secara pasti mengapa lalat begitu takut terhadap air jernih
yang dimasukan dalam kantong plastik transparan. Tetapi cara ini tampak
cukup berhasil untuk mengusir lalat. Utamanya pada hari – hari pertama
kantong air tersebut dipasang. Pada minggu kedua setelah pemasangan,
lalat mulai menampakkan gejala tidak takut lagi terhadap kantong air
dimaksud. UAP CENGKIH Masukkan beberapa butir cengkih kering kedalam
gelas. Kemudian tuangkan air panas kedalamnya. Tempatkan pada daerah
yang banyak terdapat lalat, niscaya lalat akan segera bubar. Bila uap
cengkih sudah habis biasanya lalat akan datang kembali. Oleh karena itu
perlu segera diganti dengan cengkih yang baru. Usaha seperti ini cukup
baik untuk mengusir lalat. Hal ini karena uap (minyak) cengkih mempunyai
sifat mengusir (repellent) terhadap beberapa macam serangga, termasuk
lalat. MINYAK IGNOL Penyulingan cengkih atau daun cengkih, akan
menghasilkan minyak berwarna kehitaman. Minyak ini kemudian dimurnikan
hingga berwarna jernih kekuningan. Minyak cengkih inilah yang disebut
ignol. Karena ignol berasal dari cengkih maka mempunyai sifat seperti
uap cengkih pula, yakni mampu mengusir lalat. Cara penggunaannya adalah
dengan meneteskan pada air panas. Cara yang lebih praktis cukup
meneteskan pada tissue atau kapas, kemudian diletakkan pada tempat yang
dikerumuni lalat. Lalat akan segera bubar. UAP PARAFIN Parafin padat
(lilin) bila dinyalakan akan menghasilkan uap dan bau khas yang mampu
mengusir lalat. Sehingga lilin menyala yang ditempatkan pada dekat
makanan, lalat tidak akan berani mendekatinya. Daya usir / jangkauan uap
parafin ini relatif kecil, maka perlu ditempatkan beberapa lilin yang
menyala untuk areal yang luas. Meskipun hasilnya kurang memuaskan, namun
cukup berarti dalam hal mengurangi kerumunan lalat. LIDI & TALI
Dalam suasana panas, lalat suka hingga pada tali jemuran. Lalat juga
menyenangi hinggap pada benda bersudut tajam vertical. Sifat ini dapat
dimanfaatkan untuk menangkap lalat. Caranya dengan melapisi tali / lidi
menggunakan lem. Lem yang bisa digunakan untuk keperluan ini diantaranya
adalah lem tikus. Tali atau lidi yang sudah ada lemnya, ditaburi
sedikit vanili untuk menghilangkan bau menyengat. Lidi dipasang berdiri,
sedangkan tali dipasang seperti jemuran. Biarkan beberapa waktu,
niscaya banyak lalat yang tertangkap. KERTAS BERPEREKAT Kertas yang
dilumuri perekat tikus dan ditaburi serbuk vanili dipasang ditempat
lalat berkerumun. Biarkan beberapa saat kemudian niscaya banyak lalat
yang tertangkap. Kertas berperekat yang siap pakai, kini telah banyak
dijual dipasar. Dengan demikian kita dapat dengan mudah memperolehnya
dan lebih praktis dalam penggunaannya. UMPAN BERACUN Cairan gula yang
dibubuhi racun serangga, ditempatkan pada daerah yang banyak lalatnya.
Lalat yang makan akan segera mati. Cairan gula dapat diganti dengan susu
atau sejenisnya. Racun serangga yang digunakan bisa juga dengan
pestisida untuk pertanian. Umpan beracun yang siap pakai banyak dijumpai
di pasaran. Biasanya berbentuk kristal atau butiran seperti gula pasir
berwarna biru. Satu diantaranya bernama SNIP. PERANGKAP KERUCUT Diantara
perilaku lalat adalah terbang tegak lurus disaat terkejut. Sifat ini
dapat dimanfaatkan untuk pembuatan perangkap lalat. Caranya adalah
dengan memasang kerucut yang bagian pucuknya berlubang. Bagian pucuk
atau ujung yang berlubang di sambungkan pada tabung perangkap. Tabung
berikut kerucut disangga oleh kaki setinggi 5 –10 Cm. Cara penggunaanya
sangat mudah. Tepat dibawah lubang kerucut dipasang umpan penarik yang
disukai lalat. Ketika lalat mengerumuni umpan tersebut, dan kemudian
terkejut, secara reflek lalat akan terbang tegak lurus melewati lubang
kerucut masuk tabung perangkap. Untuk membunuhnya dapat digunakan asap
yang dimasukkan kedalam tabung perangkap. Perangkap kerucut dapat dibuat
dari bahan yang sederhana. Misalnya yang sering digunakan adalah bekas
botol air minum dalam kemasan. Botol dipotong pada bagian bawah leher,
kemudian dipasang kembali secara terbalik. Selanjutnya dipasang kawat
yang berfungsi sebagai kaki penyangga (lihat gambar). PERANGKAP SINAR
Lalat termasuk serangga fototropic, artinya ia akan tertarik dan
bergerak menuju kearah sumber sinar. Atas dasar sifat ini, dibuatlah
perangkap listrik yang disebut electrocutor. Prinsipnya adalah sebuah
lampu sebagai sumber sinar, yang dikelilingi kawat beraliran listrik
dengan tegangan tinggi ( 3500 Volt). Lalat yang tertarik akan bergerak
mendekati sumber sinar (lampu), dan ketika menyentuh celah kawat akan
tersengat listrik. Alat seperti ini telah banyak dijual dipasaran dengan
model dan harga bervariasi. MISTING Alat yang dipakai untuk keperluan
pembasmian lalat dengan misting disebut mistblower. Kegunaan mistblower
ini adalah untuk menyemprotkan partikel racun / insektisida dengan
semburan udara yang kencang langsung mengenai serangga sasaran (lalat).
Dengan demikian lalat yang terkena racun tersebut dapat segera mati.
Janggkauan semburannya secara horisontal dapat mencapai 15 M, sehingga
lalat yang sedang terbang dapat dengan mudah kena semprotan partikel
racun. Racun yang digunakan untuk keperluan ini telah banyak dijual
bebas, diantaranya Mustang, Icon, dll. SPRAYING (PENYEMPROTAN) Lalat
seringkali hinggap dan terbang. Pada keadaan panas lalat cenderung akan
istirahat dan hinggap ditempat yang teduh. Tempat – tempat yang biasa
dihinggapi lalat dapat disemprot dengan racun / insektisida. Lalat yang
hinggap pada tempat yang telah disemprot akan terkena racun dan mati.
Racun akan tetap berada pada bidang yang disemprot selama kurun waktu
tertentu. Lama waktu keberadaan racun tergantung jenis racun yang
digunakan dan kondisi lingkungan setempat. Untuk keperluan penyemprotan
ini dapat digunakan spraycan (tangki semprot) yang biasa dipakai dalam
bidang pertanian.
FOGGING (PENGASAPAN) Racun / insektisida dapat
disemprotkan dalam bentuk kabut asap. Alat yang digunakan untuk
keperluan ini disebut fog generator. Fog generator yang banyak dikenal
antara lain Swing fog, Dyna fog, Eagle, dll. Asap beracun ini apabila
mengenai serangga sasaran (lalat), maka akan segera mati. Biasanya racun
dicampur dengan solar atau minyak tanah. Salah satu kelemahannya adalah
asap mudah diterpa angin. Sehingga tidak tepat apabila digunakan ketika
angin sedang bertiup. SANITASI Upaya pengendalian lalat agar tidak
sampai menimbulkan gangguan, kuncinya terletak pada kebersihan
lingkungan. Oleh karena itu membersihkan tempat sampah atau tidak
menimbun sampah lebih dari 2 (hari) merupakan tinadakan yang sangat baik
untuk mencegah berkembangnya lalat. Hal ini karena sampah merupakan
tempat bertelur dan berkembang biaknya lalat. Sampah yang dimaksud
disini meliputi sampah yang dapat busuk dan kotoran hewan lainnya.
Label:
Sanitarian Book's
Selasa, Januari 06, 2015
Air limbah yang mengandung pencemar organik biodegradable (bisa diurai oleh jasad renik) sangat tepat apabila diolah dengan cara biologi. Pengolahan secara biologi memiliki kelebihan yakni murah dan efisien. Kendatipun yang diolah oleh jasad renik hanyalah bahan organik biodegradable, tetapi ternyata bahan-bahan non biodegradable dan bahan non organik seperti logam berat juga bisa terkurangi bahkan hilang bila konsentrasi tidak terlalu tinggi.
Berkurangnya konsentrasi bahan non organik dalam air limbah yang diproses dengan cara biologi, adalah melalui mekanisme terjerap oleh flok (gumpalan) yang terbentuk oleh pertumbuhan koloni bakteri. Secara singkat dapat dikemukakan bahwa proses pengolahan dengan cara biologi dapat berlangsung secara aerob dan anaerob. Proses aerob berarti bahwa penguraian bahan organik dilakukan oleh bakteri yang dalam aktivitasnya memerlukan kehadiran oksigen (O2). Sebaliknya, proses anaerob berarti dilakukan oleh bakteri yang aktivitasnya tidak memerlukan oksigen.
Pertumbuhan bakteri dalam proses penguraian bahan pencemar organik dibedakan dalam dua kelompok yakni (a) pertumbuhan tersuspensi (suspended growth) dan (b) pertumbuhan lekat (attached growth). Atas dasar keberadaan oksigen dan pertumbuhan bakteri dalam proses pengolahan air limbah, maka pengolahan secara biologi dapat diuraikan sebagai berikut :
1) Pengolahan secara aerobik, meliputi proses lumpur aktif (pertumbuhan tersuspensi) dan pengolahan film biologi (pertumbuhan lekat). Proses lumpur aktif memiliki beragan tipe , yakni tipe konvensional /standar, aerasi diperluas (extended aeration), proses bebas bulk (lumpur tak bisa mengendap), parit oksidasi (oxidation ditch), proses nitrifikasi dan denitrifikasi. Sedangkan yang termasuk tipe pengolahan film biologi, antara lain saringan tetes (trickling filter), cakram biologi (RBC = Rotating Biological Contactor), aerasi kontak (contact aeration), proses filter biologi (biofilter) dan proses media unggun biologi.
Proses lumpur aktif pada prakteknya adalah mengalirkan air limbah kedalam bak yang di aliri udara (bak aerasi). Selanjutnya dalam bak tersebut akan tumbuh koloni bakteri berwarna kelabu hingga coklat-kehitaman. Koloni bakteri inilah yang disebut sebagai lumpur aktif. Koloni bakteri akan terus tumbuh membesar sehingga membentuk gumpalan (flok). Gumpalan – gumpalan ini kemudian di endapkan di bak pengendap II, dengan cara mengalirkan air limbah dari bak aerasi. Endapan lumpur yang terbentuk di bagian bawah bak pengendap sebagian dibuang dan sebagian yang lain dikembalikan ke bak aerasi, dan cairan yang ada dibagian atas bak pengendap akan tampak jernih. Cairan yang jernih ini adalah air limbah yang sudah bersih dari bahan organik pencemar.
Reaktor pertumbuhan lekat seperti saringan tetes berupa tumpukan kerikil dengan tinggi > 2m dan air limbah dialirkan menetes dari atas. Pada permukaan batu kerikil akan tumbuh koloni bakteri, yang semakin lama semakin tebal sehingga akan terkelupas. Koloni bakteri yang terkelupas ini ditampung dalam bak pengendap II.
Pengolahan air limbah dengan proses aerob cocok untuk pengolahan air limbah yang memiliki BOD <>4000 mg/lt lebih cocok diolah dengan proses anaerob.
2) Pengolahan secara anaerobik meliputi pencerna anaerob (anaerobic digestion) dan UASB (Upflow Anaerobic Sludge Blanket). Tangki pencerna enaerob adalah sebuah tangki kedap udara yang dialiri air limbah. Di dalam tangki ini, air limbah mengalami proses penguraian oleh bakteri anaerob. Proses ini menghasilkan gas, diantaranya yang paling khas adalah gas H2S yang berbau busuk. Proses anaerob juga dapat menghasilkan gas metan, sehingga apabila dikelola dengan baik akan diperoleh gas bio yang sangat bermanfaat.
UASB pada dasarnya sama dengan pencerna anaerob, perbedaannya terletak pada cara pengaliran air limbah. Pada UASB aliran air mengarah ke atas pada tangki vertikal. Unit pengolah limbah anaerobik lainnya adalah ABR (Anaerobic Baffle Reactor). ABR sangat rentan terhadap perubahan debit limbah dan perubahan konsentrasi bahan organik secara mendadak (organic & hydrolic loading)
3) Lagoon merupakan kolam yang didalamnya terjadi proses aerob, fakultatip dan anaerob, sesuai kedalaman air. Pasokan oksigen mengandalkan dari proses alam, yakni oksigen dari udara yang melarut kedalam air dan oksigen yang berasal dari fotosintesis tumbuhan air. Kadang lagoon disertai juga dengan aerator untuk menambah oksigen terlarut pada air (aerated lagoon)
4) Pengolahan secara irigasi (land treatment) adalah mengolah air limbah dengan cara untuk mengairi tanaman atau rumput. Air limbah yang mengandung bahan organik biodegradable berpotensi sebagai penyubur tanaman. Air limbah yang mengandung logam berat dapat digunakan untuk penyiraman hutan bambu yang berlokasi jauh dari pemukiman dan sumber air. Logam berat akan terakumulasi pada batang bambu. Selanjutnya air limbah akan mengalami proses pembersihan secara alami melalui mekanisme penguraian oleh jasad renik dan filtrasi oleh tanah dan batuan lainnya.
Pengolahan Limbah Secara Biologis
Pengolahan Limbah Secara Biologis
Air limbah yang mengandung pencemar organik biodegradable (bisa diurai oleh jasad renik) sangat tepat apabila diolah dengan cara biologi. Pengolahan secara biologi memiliki kelebihan yakni murah dan efisien. Kendatipun yang diolah oleh jasad renik hanyalah bahan organik biodegradable, tetapi ternyata bahan-bahan non biodegradable dan bahan non organik seperti logam berat juga bisa terkurangi bahkan hilang bila konsentrasi tidak terlalu tinggi.
Berkurangnya konsentrasi bahan non organik dalam air limbah yang diproses dengan cara biologi, adalah melalui mekanisme terjerap oleh flok (gumpalan) yang terbentuk oleh pertumbuhan koloni bakteri. Secara singkat dapat dikemukakan bahwa proses pengolahan dengan cara biologi dapat berlangsung secara aerob dan anaerob. Proses aerob berarti bahwa penguraian bahan organik dilakukan oleh bakteri yang dalam aktivitasnya memerlukan kehadiran oksigen (O2). Sebaliknya, proses anaerob berarti dilakukan oleh bakteri yang aktivitasnya tidak memerlukan oksigen.
Pertumbuhan bakteri dalam proses penguraian bahan pencemar organik dibedakan dalam dua kelompok yakni (a) pertumbuhan tersuspensi (suspended growth) dan (b) pertumbuhan lekat (attached growth). Atas dasar keberadaan oksigen dan pertumbuhan bakteri dalam proses pengolahan air limbah, maka pengolahan secara biologi dapat diuraikan sebagai berikut :
1) Pengolahan secara aerobik, meliputi proses lumpur aktif (pertumbuhan tersuspensi) dan pengolahan film biologi (pertumbuhan lekat). Proses lumpur aktif memiliki beragan tipe , yakni tipe konvensional /standar, aerasi diperluas (extended aeration), proses bebas bulk (lumpur tak bisa mengendap), parit oksidasi (oxidation ditch), proses nitrifikasi dan denitrifikasi. Sedangkan yang termasuk tipe pengolahan film biologi, antara lain saringan tetes (trickling filter), cakram biologi (RBC = Rotating Biological Contactor), aerasi kontak (contact aeration), proses filter biologi (biofilter) dan proses media unggun biologi.
Proses lumpur aktif pada prakteknya adalah mengalirkan air limbah kedalam bak yang di aliri udara (bak aerasi). Selanjutnya dalam bak tersebut akan tumbuh koloni bakteri berwarna kelabu hingga coklat-kehitaman. Koloni bakteri inilah yang disebut sebagai lumpur aktif. Koloni bakteri akan terus tumbuh membesar sehingga membentuk gumpalan (flok). Gumpalan – gumpalan ini kemudian di endapkan di bak pengendap II, dengan cara mengalirkan air limbah dari bak aerasi. Endapan lumpur yang terbentuk di bagian bawah bak pengendap sebagian dibuang dan sebagian yang lain dikembalikan ke bak aerasi, dan cairan yang ada dibagian atas bak pengendap akan tampak jernih. Cairan yang jernih ini adalah air limbah yang sudah bersih dari bahan organik pencemar.
Reaktor pertumbuhan lekat seperti saringan tetes berupa tumpukan kerikil dengan tinggi > 2m dan air limbah dialirkan menetes dari atas. Pada permukaan batu kerikil akan tumbuh koloni bakteri, yang semakin lama semakin tebal sehingga akan terkelupas. Koloni bakteri yang terkelupas ini ditampung dalam bak pengendap II.
Pengolahan air limbah dengan proses aerob cocok untuk pengolahan air limbah yang memiliki BOD <>4000 mg/lt lebih cocok diolah dengan proses anaerob.
2) Pengolahan secara anaerobik meliputi pencerna anaerob (anaerobic digestion) dan UASB (Upflow Anaerobic Sludge Blanket). Tangki pencerna enaerob adalah sebuah tangki kedap udara yang dialiri air limbah. Di dalam tangki ini, air limbah mengalami proses penguraian oleh bakteri anaerob. Proses ini menghasilkan gas, diantaranya yang paling khas adalah gas H2S yang berbau busuk. Proses anaerob juga dapat menghasilkan gas metan, sehingga apabila dikelola dengan baik akan diperoleh gas bio yang sangat bermanfaat.
UASB pada dasarnya sama dengan pencerna anaerob, perbedaannya terletak pada cara pengaliran air limbah. Pada UASB aliran air mengarah ke atas pada tangki vertikal. Unit pengolah limbah anaerobik lainnya adalah ABR (Anaerobic Baffle Reactor). ABR sangat rentan terhadap perubahan debit limbah dan perubahan konsentrasi bahan organik secara mendadak (organic & hydrolic loading)
3) Lagoon merupakan kolam yang didalamnya terjadi proses aerob, fakultatip dan anaerob, sesuai kedalaman air. Pasokan oksigen mengandalkan dari proses alam, yakni oksigen dari udara yang melarut kedalam air dan oksigen yang berasal dari fotosintesis tumbuhan air. Kadang lagoon disertai juga dengan aerator untuk menambah oksigen terlarut pada air (aerated lagoon)
4) Pengolahan secara irigasi (land treatment) adalah mengolah air limbah dengan cara untuk mengairi tanaman atau rumput. Air limbah yang mengandung bahan organik biodegradable berpotensi sebagai penyubur tanaman. Air limbah yang mengandung logam berat dapat digunakan untuk penyiraman hutan bambu yang berlokasi jauh dari pemukiman dan sumber air. Logam berat akan terakumulasi pada batang bambu. Selanjutnya air limbah akan mengalami proses pembersihan secara alami melalui mekanisme penguraian oleh jasad renik dan filtrasi oleh tanah dan batuan lainnya.
Label:
Sanitarian Book's
Selasa, Januari 06, 2015
Pengolahan Lumpur eks IPAL
Pengolahan Lumpur eks IPAL
Prinsip pengolahan lumpur adalah mengurangi kadar air dan volume lumpur
melalui pengentalan, pengeringan, pemadatan, atau untuk menghancurkan
racun melalui pembakaran, atau membunuh patogen melalui dekomposisi /
degradasi fisik. Beberapa unit pengolahanan lumpur yang banyak dikenal
adalah sbb. :
a. Sludge conditioning
Sludge
conditioning dapat dilakukan melalui penggumpalan dengan bahan kimia
koagulan seperti pada proses koaglasi-flokulasi. Bahan koagulan yang
digunakan juga sama yakni Tawas, feri klorida, PAC atau kadang
menggunakan kapur tohor atau abu dapur / incenerator.
Teknik yang
lain adalah dengan cara pemanasan dan pengepresan lumpur. Panas yang
digunakan sekitar 350 – 450 oF (177 – 232 oC) dan tekanan pengepresan
150 – 300 psi (10,5 – 21,0 kg/cm2).
b. Sludge thikening (pengentalan lumpur)
Proses
ini bisa dengan teknik pengapungan (floating) atau juga dengan teknik
pengendapan gravitasi ( gravity thickening). Pengapungan dilakukan
dengan menginjeksikan udara bertekanan 40 – 80 psi (2,8 - 5,5 kg/cm2)
kedalam lumpur. Udara akan “melarut” kedalam lumpur sehingga lumpur akan
terangkat dan terapung. Pengendapan gravitasi dilakukan seperti pada
proses sedimentasi. Disini lumpur akan bertambah pekat, pemekatan b isa
mencapai 3 – 10%.
c. Sludge stabilization (pemecahan bahan organik)
Sludge
stabilization pada dasarnya adalah penguraian bahan organik
biodegradeable dalam lumpur dengan memanfaatkan kerja mikroorganisme.
Pada proses ini hakikatnya sama dengan pengolahan limbah secara
biologi, yakni dengan cara aerobik atau cara anaerobik.
Untuk
stabilisasi lumpur dipandang lebih murah menggunakan cara anaerobik.
Lumpur dimasukkan dalam kontainer kedap udara (sludge digester) dan
dibiarkan beberapa waktu sehingga terjadi proses penguraian oleh
mekroorganisme. Pada proses ini akan dihasilkan gas methane (gas bio).
Lazimnya sludge digester dibuat dua buah (untuk dua tahap). Effluent
dari digester pertama masuk menjadi influent digester kedua.
Pengolahan
cara aerobik prinsipnya sama dengan instalasi lumpur aktif, yakni
meamasukkan udara kedalam lumpur, sehingga akan terjadi peningkatan
oksigen terlarut dalam air lumpur. Banyaknya oksigen tersebut merangsang
bakteri aerob untuk beraktivitas menguraikan / memecahkan bahan organik
yang ada pada lumpur dimaksud.
Lumpur hasil dari proses aerobik atau anaerobik berupa lumpur stabil yang dapat digunakan untuk pupuk.
d. Sludge Dewatering / Sludge drying bed
Proses
ini adalah untuk mengurangi kadar air dalam lumpur, dapat dilakukan
dengan mengalirkan air pada saringan pasir (sludge drying Bed). Tebal
pasir 10 – 25 Cm yang didasari kerikil setebal 10 – 45 Cm mampu
memadatkan lumpur hingga 95% dalam 6 minggu bila cuaca baik.
Pengurangan air dalam lumpur dapat juga dilakukan dengan teknik vacum filter, pressure filter, Compactor, Centrifuge.
e. Incenerator
Lumpur
yang dapat dibakar terlebih dahulu harus dilakukan proses pengentalan /
pemekatan (thicken) dan pengurangan air (dewatering). Abu hasil
pembakaran lumpur dapat digunakan untuk pengurugan lahan yang rendah
(land fill).
f. Land fill
Lumpur yang
dapat digunakan untuk pengisian lahan yang rendah (pengurugan = land
fill) terlebih dahulu harus dilakukan proses pengentalan / pemekatan
(thicken) dan pengurangan air (dewatering). Abu hasil pembakaran pada
proses incenerator juga dapat digunakan untuk pengurugan lahan yang
rendah (land fill).
g. Fertilizer
Lumpur
yang berasal dari IPAL ternyata dapat langsung digunakan untuk pupuk
pada tanaman keras. Ada sebuah laporan riset yang merekomendasikan
limbah / lumpur yang mengandung logam berat dapat digunakan sebagai
pupuk pada hutan bambu yang jauh dari permukiman dan bukan daerah
resapan air (catchment area).
Lumpur yang aman digunakan untuk pupuk
tanaman adalah lumpur yang telah mengalami proses sludge digestion /
stabilization, dewatering dan drying. Ternyata dalam lumpur IPAL pada
umumnya banyak mengandung N (6%), P (4%) dan K (0,4%) serta unsur
mikro lainnya yang bermanfaat bagi tanaman.
Label:
Sanitarian Book's
Selasa, Januari 06, 2015
Teknik eksploitasi air tanah yang paling sederhana adalah dengan
pembuatan sumur gali dan sumur bor. Di bawah ini disajikan beberapa
teknik pengeboran sederhana.
1. Cara AugerA. ALAT :
Mata bor auger ø 30 cm atau 10 cm, 1 bh
Batang auger ø 0,75” a’ 1 m, 10 bh
Klem pemutar ø 0,75” , 2 bh
Pompa lumpur
Pipa besi (gi) ø 1,25”, 2 bt
Kunci inggris, 1 bh
Kunci pas, 1 set
Kunci trimo, 1 bh
Kunci rantai, 1 bh
Knee besi (gi), 1 bh
Tripod bambu
Papan pelurus
B. BAHAN :
Pelumas
C. CARA KERJA :
Sambungkan mata bor auger dgn batang auger
Pasangkan dgn kuat klem pemutar pd batang auger
Gali lubang sedalam 0,3 m & pasang papan pelurus di atas titik pengeboran yg direncanakan
Lakukan pengeboran dgn cara menekan ke bawah dgn kuat & memutar ke kanan batang auger pd titik pengeboran yg dituju secara berulang-ulang, sampai mencapai kedalaman muka air tanah + 1sp 2 meter dlm lubang
Secara berkala (bila mata bor auger sdh penuh tanah), angkat batang auger ke atas tanah untuk membersihkannya
Lakukan penyambungan batang auger pd saat diperlukan (bila ujung atas batang auger sdh setinggi 0,5 m dari muka tanah)
Bila sdh mencapai air tanah, lakukan pembersihan lumpur dgn pompa lumpur, pompa kodok, at pipa besi+knee yg difungsikan spt pipet penyedot lumpur
2. Cara Rojok
ALAT :
Mata bor rojok ø 1,25”, 1 bh
Pipa rojok ø 0,75” a 3 m, 5 bh
Klem pemutar ø 0,75” , 2 bh
Pompa lumpur
Pipa besi (GI = Galvanized Iron) ø 1,25”, 2 bt
Papan pelurus, 1 bh
Kunci inggris, 1 bh
Kunci pas, 1 set
Kunci trimo, 1 bh
Kunci rantai, 1 bh
Knee besi (GI), 1 bh
B. BAHAN : -
Pelumas
C. CARA KERJA :
1. Sambungkan mata bor dgn pipa rojok
2. Pasangkan dgn kuat klem pemutar pd batang pipa rojok
3. Lakukan pengeboran dgn cara mengangkat & menjatuhkan dgn kuat pipa bor rojok & diputer ke kanan (searah jarum jam) pd titik pengeboran yg dituju secara berulang-ulang, sampai mencapai kedalaman muka air tanah + 1sp 2 meter dlm lubang
4. Lakukan penyambungan pipa bor pd saat diperlukan (bila ujung atas pipa rojok sdh setinggi + 0,5 m dari muka tanah)
5. Bila sdh mencapai air tanah, lakukan pembersihan lumpur dgn pompa lumpur, pompa kodok, at pipa besi+knee yg difungsikan spt pipet penyedot lumpur
3. Cara Pantek
ALAT :
Mata bor pantek ø 1,25”, 1 bh
Pipa pantek ø 1,25” a 6 m, 3 bh
Kerek dobel, 1 bh
Tali, 20 m
Besi pemberat dgn dua lubang kanan & kiri, 1 bh
Klem penahan pemberat
Klem pemutar ø 1,25” , 2 bh
Pompa lumpur, 1 bh
Papan pelurus, 1 bh
Kunci inggris, 1 bh
Kunci pas, 1 set
Kunci trimo, 1 bh
Kunci rantai, 1 bh
Knee besi (gi), 1 bh
B. BAHAN : -
Pelumas
C. CARA KERJA :
Pasang klem penahan & besi pemberat pd pipa pantek, ikatkan tali penarik pd lubang di kanan kiri pemberat
Sambungkan mata bor dgn pipa pantek & kerek dobel, pasang tali pd kerek
Angkat & tegakkan pipa bor di atas tanah
Pasangkan dgn kuat klem pemutar pd batang pipa pantek
Lakukan pengeboran dgn cara menarik & melepaskan tali unt mengangkat & menjatuhkan pemberat pd pipa pantek& memutar pipa pantek ke kanan (searah jarum jam) pd titik pengeboran yg dituju secara berulang-ulang, sampai mencapai kedalaman muka air tanah + 1sp 2 meter dlm lubang
Lakukan penyambungan pipa bor pantek saat diperlukan (bila posisi klem pemutar sdh setinggi + 0,5 m dari muka tanah)
Bila sdh mencapai air tanah, lakukan pembersihan lumpur dgn pompa lumpur, pompa kodok, at pipa besi+knee yg difungsikan spt pipet penyedot lumpur
4. Cara Jetting
A. ALAT
Tripod besi, 1 set
Kerekan, 1 bh
Swivel head, 1 bh
Lier hand
Kabel rit, 15 m
Motor pompa 4-5 pk, 1 bh
Slang hisap, 1 bh
Slang hantar, 1 bh
Pipa bor ø 1,25” a’ 3m, 10 bt
Mata bor jetting, 1 bh
Klem pemutar ø 1,25” , 1 bh
Klem ø 1,25” , 1 bh
Pemberat (balok kesi)
Kunci inggris, 1 bh
Kunci pas, 1 set
Kunci trimo, 1 bh
Kunci rantai, 1 bh
Papan pelurus
B. BAHAN :
1. PREMIUM, 5 L
2. Pelumas
C. CARA KERJA :
Pasanglah tripod, kerekan, swivel head, lier hand, kabel rit, motor pompa, slang hisap & slang hantar menjadi satu kesatuan
Gali lubang sedalam 0,3 m & pasang papan pelurus di atas titik pengeboran yg direncanakan
Sambungkan mata bor jetting dgn pipa bor & pasangkan pd ujung bawah swivel head
Pasang klem & pemberat besi pd pipa bor bag atas, di bawah swivel head
Pasangkan dgn kuat klem pemutar pd pipa bor
Hubungkan slang hisap dgn sumber air & hidupkan motor pompa
Lakukan pengeboran dgn cara menekan ke bawah dgn kuat & memutar ke kanan pipa bor pd titik pengeboran yg dituju secara berulang-ulang, sampai mencapai kedalaman muka air tanah + 1sp 2 meter dlm lubang
Lakukan penyambungan pipa bor pd saat diperlukan (bila ujung atas pipa bor sdh setinggi 0,5 m dari muka tanah)
Bila sdh mencapai air tanah, lakukan pembersihan lumpur dgn menghidupkan motor pompa terus beberapa saat sampai air yg keluar dari lubang jernih
5. Cara Rojet (Rojok-Jetting)
A. ALAT :
1. Mata bor rojok berlubang ø 1,25”, 1 bh
2. Knee & potongan pipa ø 0,75” , 1 set
3. Pipa rojok ø 0,75” a 3 m, 5 bh
4. Motor pompa 4-5 pk, 1 bh
5. Slang hisap ø 0,75”, 10 m
6. Slang hantar ø 0,75”, 10 m
7. Klem pemutar ø 0,75” , 2 bh
8. Papan pelurus, 1 bh
9. Kunci inggris, 1 bh
10. Kunci pas, 1 set
11. Kunci trimo, 1 bh
12. Kunci rantai, 1 bh
B. BAHAN :
Premium 5 l
Pelumas
C. CARA KERJA :
1. Sambungkan mata bor dgn pipa rojok
2. Pasangkan dgn kuat klem pemutar pd batang pipa rojok
3. Pasang motor pompa, slang hisap & slang hantar
4. Pasang knee & potongan pipa pd ujung atas pipa rojok & hubungkan dgn slang hantar
5. Pasang papan pelurus di atas titik pengeboran yg direncanakan
6. Hubungkan slang hisap dgn sumber air, dan hidupkan motor pompa
7. Lakukan pengeboran dgn cara mengangkat & menjatuhkan dgn kuat pipa bor rojok & diputer ke kanan (searah jarum jam) pd titik pengeboran yg dituju secara berulang-ulang, sampai mencapai kedalaman muka air tanah plus 1sampai 2 meter dlm lubang
8. Lakukan penyambungan pipa bor pd saat diperlukan (bila ujung atas pipa rojok sdh setinggi + 0,5 m dari muka tanah)
9. Bila sudah mencapai air tanah, lakukan pembersihan lumpur dgn menghidupkan motor pompa terus beberapa saat sampai air yang keluar dari lubang jernih
6. Cara Semi Otomatis (Hydradrill)
A. ALAT :
Tripod besi, 1 set
Kerekan, 1 bh
Swivel head hidradrill 1 bh
Lier hand
Kabel rit, 15 m
Motor hydradrill p 200, 3 pk, 1 bh
Motor pompa 3 pk, 1 bh
Slang hisap & saringan, 1 bh
Slang hantar, 1 bh
Pipa bor ø 0,75” a’ 1,5 m, 20 bt
Mata bor hydradrill, 1 bh
Kunci inggris, 1 bh
Kunci pas, 1 set
Kunci trimo, 1 bh
Kunci rantai, 1 bh
Papan pelurus
B. BAHAN :
1. Premium, 5 l
2. Pelumas
C. CARA KERJA :
Pasanglah tripod, kerekan, swivel head, lier hand, kabel rit, motor pompa, slang hisap & slang hantar menjadi satu kesatuan (tripod & kerekan berfungsi untuk menahan mesin hidradrill pd saat dilakukan penyambungan pipa bor)
Gali lubang sedalam 0,3 m & pasang papan pelurus di atas titik pengeboran yg direncanakan
Sambungkan mata bor hidradrill dgn pipa bor & pasangkan pd ujung bawah swivel head
Hubungkan slang hisap dgn sumber air & hidupkan motor pompa
Lakukan pengeboran dgn cara menahan mesin motor hydradrill di sebelah kanan & kiri serta menekan ke bawah dgn kuat pd titik pengeboran yg dituju secara berulang-ulang, sampai mencapai kedalaman muka air tanah + 1sp 2 meter dlm lubang
Lakukan penyambungan pipa bor pd saat diperlukan (bila ujung atas pipa bor sdh setinggi 0,5 m dari muka tanah)
7. Pembuatan Sumur Gali (SGL)
A. ALAT :
Cangkul, 2 bh
Linggis, 1 bh
Cetok, 1 bh
Sekop, 1 bh
Ember/kranjang, 2 bh
Tangga, 2 bh a” 4 m
Tali, 20 m
Kerek/katrol. 1 bh
Parang
Gergaji
BAHAN :
CARA KERJA :
Tentukan lokasi yang tepat sesuai hasil pendugaan dan bebas pencemaran
Buat garis batas horizontal penggalian, biasanya berupa lingkaran
Buat tripod bambu & pasang kerek/katrol pada puncak tripod
Pasang tali pada kerek dan ikat ember/kranjang di masing-2 ujung tali
Lakukan penggalian dengan alat-alat yang tersedia sampai kedalaman muka air tanah + 1 sp 2 m
Minimum diperlukan 2 orang pekerja yang bekerja bergantian di atas & di bawah
Tanah galian diangkat ke atas permukaan tanah secara bertahap dengan kerek
Eksploitasi Air Tanah
Eksploitasi Air Tanah
1. Cara AugerA. ALAT :
Mata bor auger ø 30 cm atau 10 cm, 1 bh
Batang auger ø 0,75” a’ 1 m, 10 bh
Klem pemutar ø 0,75” , 2 bh
Pompa lumpur
Pipa besi (gi) ø 1,25”, 2 bt
Kunci inggris, 1 bh
Kunci pas, 1 set
Kunci trimo, 1 bh
Kunci rantai, 1 bh
Knee besi (gi), 1 bh
Tripod bambu
Papan pelurus
B. BAHAN :
Pelumas
C. CARA KERJA :
Sambungkan mata bor auger dgn batang auger
Pasangkan dgn kuat klem pemutar pd batang auger
Gali lubang sedalam 0,3 m & pasang papan pelurus di atas titik pengeboran yg direncanakan
Lakukan pengeboran dgn cara menekan ke bawah dgn kuat & memutar ke kanan batang auger pd titik pengeboran yg dituju secara berulang-ulang, sampai mencapai kedalaman muka air tanah + 1sp 2 meter dlm lubang
Secara berkala (bila mata bor auger sdh penuh tanah), angkat batang auger ke atas tanah untuk membersihkannya
Lakukan penyambungan batang auger pd saat diperlukan (bila ujung atas batang auger sdh setinggi 0,5 m dari muka tanah)
Bila sdh mencapai air tanah, lakukan pembersihan lumpur dgn pompa lumpur, pompa kodok, at pipa besi+knee yg difungsikan spt pipet penyedot lumpur
2. Cara Rojok
ALAT :
Mata bor rojok ø 1,25”, 1 bh
Pipa rojok ø 0,75” a 3 m, 5 bh
Klem pemutar ø 0,75” , 2 bh
Pompa lumpur
Pipa besi (GI = Galvanized Iron) ø 1,25”, 2 bt
Papan pelurus, 1 bh
Kunci inggris, 1 bh
Kunci pas, 1 set
Kunci trimo, 1 bh
Kunci rantai, 1 bh
Knee besi (GI), 1 bh
B. BAHAN : -
Pelumas
C. CARA KERJA :
1. Sambungkan mata bor dgn pipa rojok
2. Pasangkan dgn kuat klem pemutar pd batang pipa rojok
3. Lakukan pengeboran dgn cara mengangkat & menjatuhkan dgn kuat pipa bor rojok & diputer ke kanan (searah jarum jam) pd titik pengeboran yg dituju secara berulang-ulang, sampai mencapai kedalaman muka air tanah + 1sp 2 meter dlm lubang
4. Lakukan penyambungan pipa bor pd saat diperlukan (bila ujung atas pipa rojok sdh setinggi + 0,5 m dari muka tanah)
5. Bila sdh mencapai air tanah, lakukan pembersihan lumpur dgn pompa lumpur, pompa kodok, at pipa besi+knee yg difungsikan spt pipet penyedot lumpur
3. Cara Pantek
ALAT :
Mata bor pantek ø 1,25”, 1 bh
Pipa pantek ø 1,25” a 6 m, 3 bh
Kerek dobel, 1 bh
Tali, 20 m
Besi pemberat dgn dua lubang kanan & kiri, 1 bh
Klem penahan pemberat
Klem pemutar ø 1,25” , 2 bh
Pompa lumpur, 1 bh
Papan pelurus, 1 bh
Kunci inggris, 1 bh
Kunci pas, 1 set
Kunci trimo, 1 bh
Kunci rantai, 1 bh
Knee besi (gi), 1 bh
B. BAHAN : -
Pelumas
C. CARA KERJA :
Pasang klem penahan & besi pemberat pd pipa pantek, ikatkan tali penarik pd lubang di kanan kiri pemberat
Sambungkan mata bor dgn pipa pantek & kerek dobel, pasang tali pd kerek
Angkat & tegakkan pipa bor di atas tanah
Pasangkan dgn kuat klem pemutar pd batang pipa pantek
Lakukan pengeboran dgn cara menarik & melepaskan tali unt mengangkat & menjatuhkan pemberat pd pipa pantek& memutar pipa pantek ke kanan (searah jarum jam) pd titik pengeboran yg dituju secara berulang-ulang, sampai mencapai kedalaman muka air tanah + 1sp 2 meter dlm lubang
Lakukan penyambungan pipa bor pantek saat diperlukan (bila posisi klem pemutar sdh setinggi + 0,5 m dari muka tanah)
Bila sdh mencapai air tanah, lakukan pembersihan lumpur dgn pompa lumpur, pompa kodok, at pipa besi+knee yg difungsikan spt pipet penyedot lumpur
4. Cara Jetting
A. ALAT
Tripod besi, 1 set
Kerekan, 1 bh
Swivel head, 1 bh
Lier hand
Kabel rit, 15 m
Motor pompa 4-5 pk, 1 bh
Slang hisap, 1 bh
Slang hantar, 1 bh
Pipa bor ø 1,25” a’ 3m, 10 bt
Mata bor jetting, 1 bh
Klem pemutar ø 1,25” , 1 bh
Klem ø 1,25” , 1 bh
Pemberat (balok kesi)
Kunci inggris, 1 bh
Kunci pas, 1 set
Kunci trimo, 1 bh
Kunci rantai, 1 bh
Papan pelurus
B. BAHAN :
1. PREMIUM, 5 L
2. Pelumas
C. CARA KERJA :
Pasanglah tripod, kerekan, swivel head, lier hand, kabel rit, motor pompa, slang hisap & slang hantar menjadi satu kesatuan
Gali lubang sedalam 0,3 m & pasang papan pelurus di atas titik pengeboran yg direncanakan
Sambungkan mata bor jetting dgn pipa bor & pasangkan pd ujung bawah swivel head
Pasang klem & pemberat besi pd pipa bor bag atas, di bawah swivel head
Pasangkan dgn kuat klem pemutar pd pipa bor
Hubungkan slang hisap dgn sumber air & hidupkan motor pompa
Lakukan pengeboran dgn cara menekan ke bawah dgn kuat & memutar ke kanan pipa bor pd titik pengeboran yg dituju secara berulang-ulang, sampai mencapai kedalaman muka air tanah + 1sp 2 meter dlm lubang
Lakukan penyambungan pipa bor pd saat diperlukan (bila ujung atas pipa bor sdh setinggi 0,5 m dari muka tanah)
Bila sdh mencapai air tanah, lakukan pembersihan lumpur dgn menghidupkan motor pompa terus beberapa saat sampai air yg keluar dari lubang jernih
5. Cara Rojet (Rojok-Jetting)
A. ALAT :
1. Mata bor rojok berlubang ø 1,25”, 1 bh
2. Knee & potongan pipa ø 0,75” , 1 set
3. Pipa rojok ø 0,75” a 3 m, 5 bh
4. Motor pompa 4-5 pk, 1 bh
5. Slang hisap ø 0,75”, 10 m
6. Slang hantar ø 0,75”, 10 m
7. Klem pemutar ø 0,75” , 2 bh
8. Papan pelurus, 1 bh
9. Kunci inggris, 1 bh
10. Kunci pas, 1 set
11. Kunci trimo, 1 bh
12. Kunci rantai, 1 bh
B. BAHAN :
Premium 5 l
Pelumas
C. CARA KERJA :
1. Sambungkan mata bor dgn pipa rojok
2. Pasangkan dgn kuat klem pemutar pd batang pipa rojok
3. Pasang motor pompa, slang hisap & slang hantar
4. Pasang knee & potongan pipa pd ujung atas pipa rojok & hubungkan dgn slang hantar
5. Pasang papan pelurus di atas titik pengeboran yg direncanakan
6. Hubungkan slang hisap dgn sumber air, dan hidupkan motor pompa
7. Lakukan pengeboran dgn cara mengangkat & menjatuhkan dgn kuat pipa bor rojok & diputer ke kanan (searah jarum jam) pd titik pengeboran yg dituju secara berulang-ulang, sampai mencapai kedalaman muka air tanah plus 1sampai 2 meter dlm lubang
8. Lakukan penyambungan pipa bor pd saat diperlukan (bila ujung atas pipa rojok sdh setinggi + 0,5 m dari muka tanah)
9. Bila sudah mencapai air tanah, lakukan pembersihan lumpur dgn menghidupkan motor pompa terus beberapa saat sampai air yang keluar dari lubang jernih
6. Cara Semi Otomatis (Hydradrill)
A. ALAT :
Tripod besi, 1 set
Kerekan, 1 bh
Swivel head hidradrill 1 bh
Lier hand
Kabel rit, 15 m
Motor hydradrill p 200, 3 pk, 1 bh
Motor pompa 3 pk, 1 bh
Slang hisap & saringan, 1 bh
Slang hantar, 1 bh
Pipa bor ø 0,75” a’ 1,5 m, 20 bt
Mata bor hydradrill, 1 bh
Kunci inggris, 1 bh
Kunci pas, 1 set
Kunci trimo, 1 bh
Kunci rantai, 1 bh
Papan pelurus
B. BAHAN :
1. Premium, 5 l
2. Pelumas
C. CARA KERJA :
Pasanglah tripod, kerekan, swivel head, lier hand, kabel rit, motor pompa, slang hisap & slang hantar menjadi satu kesatuan (tripod & kerekan berfungsi untuk menahan mesin hidradrill pd saat dilakukan penyambungan pipa bor)
Gali lubang sedalam 0,3 m & pasang papan pelurus di atas titik pengeboran yg direncanakan
Sambungkan mata bor hidradrill dgn pipa bor & pasangkan pd ujung bawah swivel head
Hubungkan slang hisap dgn sumber air & hidupkan motor pompa
Lakukan pengeboran dgn cara menahan mesin motor hydradrill di sebelah kanan & kiri serta menekan ke bawah dgn kuat pd titik pengeboran yg dituju secara berulang-ulang, sampai mencapai kedalaman muka air tanah + 1sp 2 meter dlm lubang
Lakukan penyambungan pipa bor pd saat diperlukan (bila ujung atas pipa bor sdh setinggi 0,5 m dari muka tanah)
7. Pembuatan Sumur Gali (SGL)
A. ALAT :
Cangkul, 2 bh
Linggis, 1 bh
Cetok, 1 bh
Sekop, 1 bh
Ember/kranjang, 2 bh
Tangga, 2 bh a” 4 m
Tali, 20 m
Kerek/katrol. 1 bh
Parang
Gergaji
BAHAN :
CARA KERJA :
Tentukan lokasi yang tepat sesuai hasil pendugaan dan bebas pencemaran
Buat garis batas horizontal penggalian, biasanya berupa lingkaran
Buat tripod bambu & pasang kerek/katrol pada puncak tripod
Pasang tali pada kerek dan ikat ember/kranjang di masing-2 ujung tali
Lakukan penggalian dengan alat-alat yang tersedia sampai kedalaman muka air tanah + 1 sp 2 m
Minimum diperlukan 2 orang pekerja yang bekerja bergantian di atas & di bawah
Tanah galian diangkat ke atas permukaan tanah secara bertahap dengan kerek
Label:
Sanitarian Book's
Selasa, Januari 06, 2015
Pengukuran Kapasitas Air
Pengukuran Kapasitas Air
1. Pendahuluan
Dalam rangka penyediaan air bersih bagi masyarakat perlu diketahui kapasitas air yang tersedia. Untuk mengetahui kapasitas air yang tersedia perlu dilakukan pengukuran. Pengukuran kapasitas air (debit air) dapat dilakukan mulai dengan cara yang paling sederhana hingga yang canggih.
2. Teknik pengukuran debit
a. Saluan terbuka
Gordon, dkk (1992) mengemukakan tentang teknik pengukuran debit aliran di lapangan dapat dilakukan melalui empat kategori, yaitu (a). Pengukuran volume air sungai, (b). Pengukuran debit dengan cara mengukur kecepatan aliran dan luas penampang melintang, (c). Pengukuran debit dengan menggunakan bahan pewarna yang dialirkan dalam aliran sungai, (d). Pengukuran debit dengan membuat bangunan pengukur debit seperti weir dan flume. Penjelasan tentang pengukuran debit menggunakan weir dan flume dapat dilihat pada lampiran.
Diantara beberapa teknik pengukuran debit yang ada, pengukuran debit aliran yang sederhana adalah menggunakan rumus kontinyuitas. Debit aliran (Q) dipertoleh dengan mengalikan kecepatan aliran (V) dengan luas penampang melintang (A), secara matematis dirumuskan sebagai berikut :
Q = A.V.
Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan memperkirakan debit empiris menggunakan persamaan empiris dari manning. Cara ini dikenal sebagai slope-area methode. Bentuk persamaan manning adalah untuk memperoleh angka kecepatan pada saluran terbuka. Adapun rumusnya sebagai berikut :
V = (1/n) r 2/3 S 1/2
Dimana :
V = kecepatan aliran (m/dt),
r = jari-jari hidrolik (m),
S = kemiringan permukaan air, dan
n = angka koefisien kekasaran manning.
Pengukuran kecepatan aliran dapat dilakukan dengan cara sederhana yaitu dengan uji celup. Uji celup dilakukan dengan cara meletakan bola pingpong (atau benda terapung lainnya) diatas permukaan aliran air. Tentukan jarak tempuh bola pingpong dimaksud, misal J meter, Catat waktu tempuh bola pingpong sejauh J meter, misal ; t menit. Kecepatan (V) aliran adalah : J / t meter/menit.
Apabila data kecepatan (V) diatas di ketahui dan luas penampang melintang juga diketahui, maka selanjutnya dapat dihitung debit aliran(Q) menggunakan persamaan Q = A.V.
b. Saluran tertutup
Pengukuran debit pada saluran tertutup (pipa) dapat dilakukan dengan instrumen watermeter, venturymeter, flowmeter. Hasil pembacaan Venturymeter dan flowmeter adalah data tentang kecepatan aliran air (V). luas penampang pipa (A) dapat diukur dan dihitung dengan rumus ¼ p D2 . Selanjutnya data kecepatan dan luas penampang pipa digunakan untuk menghitung debit air Q = V.A.
Cara sedehana dapat dilakukan dengan bantuan alat penakar. Sebuah kontainer dengan volume tertentu (vol) digunakan untuk menampung aliran dari pipa selama waktu tertentu (t). Selajutnya data yang diperoleh dapat digunakan untuk menghitung debit air (Q) dalam pipa dimaksud. Debit air dapat dihitung dengan rumus Q = Vol / t .
Pengukuran debit air dalam pipa dapat juga dilakukan dengan bantuan Nomograph Hazen-William, apabila telah diketahu data diamater pipa (D), Kemiringan pipa (S), dan jenis material pipa (C).
c. Air tanah
Pengukuran debit air tanah yang keluar melalui mata air atau sumur dapat diukur. Pengukuran debit air sumur dapat dilakukan dengan bantuan pemompaan. Cara sederhana yang dapat dilakukan adalah :
- Ukur / hitung volume air sumur stabil (maksimal). Bila sumur berbentuk lingkaran, maka volume air dihitung berdasarkan rumus volume silinder (T x ¼ p D2 ), misal l m3.
- air sumur dipompa / dikuras sampai habis.
- Biarkan air sumur terisi kembali sampai dengan volume semula, catat waktu yang diperlukan untuk pengisian air sumur seperti volume semula, misal t menit.
- Hitung debit air sumur (Q), dengan rumus ; Q = l / t m3/menit .
Untuk mengukur debit mata air dapat dilakukan salah satu teknik diatas, yakni bisa dengan bantuan aliran dalam pipa menggunakan flowmeter, Weir, saluran terbuka, atau dengan cara menakar.
Pengukuran debit air tanah secara menyeluruh harus dilakuan dengan analisis / perhitungan flow net yang akan dibahas kemudian.
d. Air limbah
Pengukuran debit air limbah dapat dilakukan dengan rumus kontinuitas pada aliran air permukaan, Weir, Flume, menakar dan dapat pula melalui pendekatan kapasitas pemompaan.
Dalam rangka penyediaan air bersih bagi masyarakat perlu diketahui kapasitas air yang tersedia. Untuk mengetahui kapasitas air yang tersedia perlu dilakukan pengukuran. Pengukuran kapasitas air (debit air) dapat dilakukan mulai dengan cara yang paling sederhana hingga yang canggih.
2. Teknik pengukuran debit
a. Saluan terbuka
Gordon, dkk (1992) mengemukakan tentang teknik pengukuran debit aliran di lapangan dapat dilakukan melalui empat kategori, yaitu (a). Pengukuran volume air sungai, (b). Pengukuran debit dengan cara mengukur kecepatan aliran dan luas penampang melintang, (c). Pengukuran debit dengan menggunakan bahan pewarna yang dialirkan dalam aliran sungai, (d). Pengukuran debit dengan membuat bangunan pengukur debit seperti weir dan flume. Penjelasan tentang pengukuran debit menggunakan weir dan flume dapat dilihat pada lampiran.
Diantara beberapa teknik pengukuran debit yang ada, pengukuran debit aliran yang sederhana adalah menggunakan rumus kontinyuitas. Debit aliran (Q) dipertoleh dengan mengalikan kecepatan aliran (V) dengan luas penampang melintang (A), secara matematis dirumuskan sebagai berikut :
Q = A.V.
Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan memperkirakan debit empiris menggunakan persamaan empiris dari manning. Cara ini dikenal sebagai slope-area methode. Bentuk persamaan manning adalah untuk memperoleh angka kecepatan pada saluran terbuka. Adapun rumusnya sebagai berikut :
V = (1/n) r 2/3 S 1/2
Dimana :
V = kecepatan aliran (m/dt),
r = jari-jari hidrolik (m),
S = kemiringan permukaan air, dan
n = angka koefisien kekasaran manning.
Pengukuran kecepatan aliran dapat dilakukan dengan cara sederhana yaitu dengan uji celup. Uji celup dilakukan dengan cara meletakan bola pingpong (atau benda terapung lainnya) diatas permukaan aliran air. Tentukan jarak tempuh bola pingpong dimaksud, misal J meter, Catat waktu tempuh bola pingpong sejauh J meter, misal ; t menit. Kecepatan (V) aliran adalah : J / t meter/menit.
Apabila data kecepatan (V) diatas di ketahui dan luas penampang melintang juga diketahui, maka selanjutnya dapat dihitung debit aliran(Q) menggunakan persamaan Q = A.V.
b. Saluran tertutup
Pengukuran debit pada saluran tertutup (pipa) dapat dilakukan dengan instrumen watermeter, venturymeter, flowmeter. Hasil pembacaan Venturymeter dan flowmeter adalah data tentang kecepatan aliran air (V). luas penampang pipa (A) dapat diukur dan dihitung dengan rumus ¼ p D2 . Selanjutnya data kecepatan dan luas penampang pipa digunakan untuk menghitung debit air Q = V.A.
Cara sedehana dapat dilakukan dengan bantuan alat penakar. Sebuah kontainer dengan volume tertentu (vol) digunakan untuk menampung aliran dari pipa selama waktu tertentu (t). Selajutnya data yang diperoleh dapat digunakan untuk menghitung debit air (Q) dalam pipa dimaksud. Debit air dapat dihitung dengan rumus Q = Vol / t .
Pengukuran debit air dalam pipa dapat juga dilakukan dengan bantuan Nomograph Hazen-William, apabila telah diketahu data diamater pipa (D), Kemiringan pipa (S), dan jenis material pipa (C).
c. Air tanah
Pengukuran debit air tanah yang keluar melalui mata air atau sumur dapat diukur. Pengukuran debit air sumur dapat dilakukan dengan bantuan pemompaan. Cara sederhana yang dapat dilakukan adalah :
- Ukur / hitung volume air sumur stabil (maksimal). Bila sumur berbentuk lingkaran, maka volume air dihitung berdasarkan rumus volume silinder (T x ¼ p D2 ), misal l m3.
- air sumur dipompa / dikuras sampai habis.
- Biarkan air sumur terisi kembali sampai dengan volume semula, catat waktu yang diperlukan untuk pengisian air sumur seperti volume semula, misal t menit.
- Hitung debit air sumur (Q), dengan rumus ; Q = l / t m3/menit .
Untuk mengukur debit mata air dapat dilakukan salah satu teknik diatas, yakni bisa dengan bantuan aliran dalam pipa menggunakan flowmeter, Weir, saluran terbuka, atau dengan cara menakar.
Pengukuran debit air tanah secara menyeluruh harus dilakuan dengan analisis / perhitungan flow net yang akan dibahas kemudian.
d. Air limbah
Pengukuran debit air limbah dapat dilakukan dengan rumus kontinuitas pada aliran air permukaan, Weir, Flume, menakar dan dapat pula melalui pendekatan kapasitas pemompaan.
Label:
Sanitarian Book's
Selasa, Januari 06, 2015
Pendugaan Air Tanah
Pendugaan Air Tanah
Metode :
A. Tradisional / konvensional :
- Daun pisang yang di tengkurapkan di tanah yang diduga, selama semalam suntuk à positip ada air bila jumlah embun besar. Dilakukan pada musim paling kering (September).
- Melempar tampah, digelindingkan à tempat berhenti tengkurap à positip ada air
- Revealer à menggunakan dua buah ranting kering bercabang yang dipegang dengan tangan kanan-kiri à positip air bila ujung ranting saling berhimpit.
- Dll.
B. Indikator lingkungan
- Memperhatikan daerah yang paling rendah (lembah) à buat sumur.
- Terdapat lebih banyak tumbuhan menghijau
- Bila di padang tandus / pasir à diatasnya banyak burung terbang berputar-putar.
- Bila pelepah dahan pohon kelapa SENGKLEH / semplak berarti ada air tanah dengan kedalaman < 10 M.
- Dll
C. Metode Sonar (radar):
- dengan instrument pembangkit dan penangkap gelombang à hasilnya ditampilkan dalam grafik kerapatan batuan. Perbedaan kerapatan ditafsirkan akan selalu berhubungan dengan kadar air dalam batuan.
D. Metoda Loren :
- ini identik dengan revealer, menganggap bahwa tubuh manusia seperti hal dioda. Tubuh manusia bila menginjak tanah akan mengalirkan listrik dengan muatan tertentu ( - / + ) yang kemudian dialirkan ke ujung revealer. Bila bermuatan kembar akan tolak-menolak (ujung reveler akan membuka) à menunjukan bahwa tanah yang diinjak dibawahnya tidak ada air.
- Pengguna revealer disyaratkan harus memiliki hambatan jenis tertentu (1 kOhm). Diukur dengan memegang ujung elektroda multi tester, dengan posisi ukur ohm-meter. Berhubungan dengan sensitivitas.
E. Metode Remote sensing (penginderaan jauh)
- Menggunakan interpretasi (tafsir) foto udara atau foto satelit.
à 9 Kunci interpretasi :
- Rona/warna (Tone/Color)
- Bentuk/Shape
- Ukuran/Size
- Pola/Pattern
- Kekasaran/Texture
- Tinggi/Height
- Bayangan/Shadow
- Situs/Site
- Asosiasi/ Association
F. Metode Resistifity meter (geolistrik)
- Prinsip kerja : mengalirkan listrik searah kedalam bumi, kemudian diukur nilai resistan-nya (nilai hambatan). Semakin kecil nilai hambatan berarti semakin basah. à banyak air.
- pertama kali dilakukan oleh Conrad Schlumberger pada tahun 1912
- merupakan salah satu metoda geofisika untuk mengetahui perubahan tahanan jenis lapisan batuan di bawah permukaan tanah dengan cara mengalirkan arus listrik DC ('Direct Current') yang mempunyai tegangan tinggi ke dalam tanah
- berguna untuk mengetahui karakteristik lapisan batuan bawah permukaan sampai kedalaman sekitar 300 m sangat berguna untuk mengetahui kemungkinan adanya lapisan akifer yaitu lapisan batuan yang merupakan lapisan pembawa air.
- Umumnya yang dicari adalah 'confined aquifer' yaitu lapisan akifer yang diapit oleh lapisan batuan kedap air (misalnya lapisan lempung) pada bagian bawah dan bagian atas. 'Confined' akifer ini mempunyai 'recharge' yang relatif jauh, sehingga ketersediaan air tanah di bawah titik bor tidak terpengaruh oleh perubahan cuaca setempat
- Dipandu dengan peta hydrologi. Dilengkapi fasilitas koordinat UTM (universal Tele Mercator), bisa dengan koordinat Bujur dan Lintang. Perlu GPS (global positioning system).
A. Tradisional / konvensional :
- Daun pisang yang di tengkurapkan di tanah yang diduga, selama semalam suntuk à positip ada air bila jumlah embun besar. Dilakukan pada musim paling kering (September).
- Melempar tampah, digelindingkan à tempat berhenti tengkurap à positip ada air
- Revealer à menggunakan dua buah ranting kering bercabang yang dipegang dengan tangan kanan-kiri à positip air bila ujung ranting saling berhimpit.
- Dll.
B. Indikator lingkungan
- Memperhatikan daerah yang paling rendah (lembah) à buat sumur.
- Terdapat lebih banyak tumbuhan menghijau
- Bila di padang tandus / pasir à diatasnya banyak burung terbang berputar-putar.
- Bila pelepah dahan pohon kelapa SENGKLEH / semplak berarti ada air tanah dengan kedalaman < 10 M.
- Dll
C. Metode Sonar (radar):
- dengan instrument pembangkit dan penangkap gelombang à hasilnya ditampilkan dalam grafik kerapatan batuan. Perbedaan kerapatan ditafsirkan akan selalu berhubungan dengan kadar air dalam batuan.
D. Metoda Loren :
- ini identik dengan revealer, menganggap bahwa tubuh manusia seperti hal dioda. Tubuh manusia bila menginjak tanah akan mengalirkan listrik dengan muatan tertentu ( - / + ) yang kemudian dialirkan ke ujung revealer. Bila bermuatan kembar akan tolak-menolak (ujung reveler akan membuka) à menunjukan bahwa tanah yang diinjak dibawahnya tidak ada air.
- Pengguna revealer disyaratkan harus memiliki hambatan jenis tertentu (1 kOhm). Diukur dengan memegang ujung elektroda multi tester, dengan posisi ukur ohm-meter. Berhubungan dengan sensitivitas.
E. Metode Remote sensing (penginderaan jauh)
- Menggunakan interpretasi (tafsir) foto udara atau foto satelit.
à 9 Kunci interpretasi :
- Rona/warna (Tone/Color)
- Bentuk/Shape
- Ukuran/Size
- Pola/Pattern
- Kekasaran/Texture
- Tinggi/Height
- Bayangan/Shadow
- Situs/Site
- Asosiasi/ Association
F. Metode Resistifity meter (geolistrik)
- Prinsip kerja : mengalirkan listrik searah kedalam bumi, kemudian diukur nilai resistan-nya (nilai hambatan). Semakin kecil nilai hambatan berarti semakin basah. à banyak air.
- pertama kali dilakukan oleh Conrad Schlumberger pada tahun 1912
- merupakan salah satu metoda geofisika untuk mengetahui perubahan tahanan jenis lapisan batuan di bawah permukaan tanah dengan cara mengalirkan arus listrik DC ('Direct Current') yang mempunyai tegangan tinggi ke dalam tanah
- berguna untuk mengetahui karakteristik lapisan batuan bawah permukaan sampai kedalaman sekitar 300 m sangat berguna untuk mengetahui kemungkinan adanya lapisan akifer yaitu lapisan batuan yang merupakan lapisan pembawa air.
- Umumnya yang dicari adalah 'confined aquifer' yaitu lapisan akifer yang diapit oleh lapisan batuan kedap air (misalnya lapisan lempung) pada bagian bawah dan bagian atas. 'Confined' akifer ini mempunyai 'recharge' yang relatif jauh, sehingga ketersediaan air tanah di bawah titik bor tidak terpengaruh oleh perubahan cuaca setempat
- Dipandu dengan peta hydrologi. Dilengkapi fasilitas koordinat UTM (universal Tele Mercator), bisa dengan koordinat Bujur dan Lintang. Perlu GPS (global positioning system).
Label:
Sanitarian Book's
Selasa, Januari 06, 2015
Alat dan Bahan :
- Pipet ukur
- Gelas ukur
- Tabung uji permiabilitas
- Oven / incubator
- Pasir / Tanah
- Air jernih
Cara Kerja :
- Siapkan tanah yang sudah dikeringkan
- Pasangkan kain tile (kain kasa/filter) pada alas tabung uji.
- Masukkan tanah kering kedalam tabung uji setebal minimal 40 Cm.
- Tutup kran pematus pada tabung uji
- Masukkan air jernih kedalam tabung uji sampai tanah dimaksud menjadi jenuh (Moisture / kelembaban 100%).
- Tambahkan air jernih sampai dengan volume tertentu (catat volumenya, misal: J ml)
- Buka kran pematus, kemudian tampung airnya. Catat lama pembukaan kran (misal: K menit). Catat pula volume air yang tertampung (misal: L ml).
- Catat sisa air jernih pada tabung uji (misal: S ml)
- Catat luas tabung uji (misal: A cm2)
- Hitung permiabilitas tanah (Pm) sbb.
Pm = L/K/A ml/menit/cm2
Permiabilitas tanah
- Pipet ukur
- Gelas ukur
- Tabung uji permiabilitas
- Oven / incubator
- Pasir / Tanah
- Air jernih
Cara Kerja :
- Siapkan tanah yang sudah dikeringkan
- Pasangkan kain tile (kain kasa/filter) pada alas tabung uji.
- Masukkan tanah kering kedalam tabung uji setebal minimal 40 Cm.
- Tutup kran pematus pada tabung uji
- Masukkan air jernih kedalam tabung uji sampai tanah dimaksud menjadi jenuh (Moisture / kelembaban 100%).
- Tambahkan air jernih sampai dengan volume tertentu (catat volumenya, misal: J ml)
- Buka kran pematus, kemudian tampung airnya. Catat lama pembukaan kran (misal: K menit). Catat pula volume air yang tertampung (misal: L ml).
- Catat sisa air jernih pada tabung uji (misal: S ml)
- Catat luas tabung uji (misal: A cm2)
- Hitung permiabilitas tanah (Pm) sbb.
Pm = L/K/A ml/menit/cm2



[baa]
:|
8-}
~x(
i-)
:-L
x(
=))
[ka]
:vis:
[ok]
:adrink:
[good]
:molor:
[punish]
:))
:)]
;))
;;)
:omg:
;)
:o
:help:
:)
:LoL:
:doubleup:
:thumbsup:
:dor:
:-/